11 July 2024

Ilustrasi: S. Maduprojo

Kubuka pintu kamar. Pemandangan tidak mengenakkan menyambutku di depan pintu. Sampah-sampah berserakan.

Kutengok kiri-kanan. Mungkin saja ada tanda-tanda mencurigakan. Nihil. Semua terlihat biasa.

Kutaruh sepatu olah raga yang sedang ditenteng, lalu bergegas mengambil kantong plastik. Satu per satu sampah plastik dan tempat makanan kupungut, dan segera kumasukkan ke dalam kantong.

“Aih, rajin amat,” ujar Ibu Kos, yang berjalan di jalan setapak–melewati depan kamarku.

“Bu, ini ada yang jahil. Buang sampah di sini!”

Ibu Kos sepertinya tidak peduli dengan keluhanku. Karena mengenakan masker, aku tidak tahu apakah dia cuma tersenyum atau bagaimana. Ia hanya terus berjalan menuju rumahnya.

Sambil ngedumel dalam hati, aku kembali membereskan sampah-sampah sialan ini. Gara-gara ini, jadwal olah ragaku harus tertunda sejenak. Ini sudah yang ketiga kalinya terjadi. Dua hari yang lalu aku temukan sampah-sampah seperti ini.

Sepulang dari kantor, kulihat ada pemandangan tidak biasa di depan pintu kamarku. Awalnya, kuanggap ini kejadian biasa. Sebuah keisengan belaka tanpa kutahu siapa pelakunya. Ada rasa sebal sih karena menambah pekerjaan.

Ketika kejadian ini kembali terulang untuk kedua kalinya sore kemarin, aku mulai jengkel. Kejengkelanku pun makin menjadi-jadi ketika menyadari si oknum—begitu aku melabelinya–bahkan sengaja membuang kembali sampah-sampah yang berasal dari tempat sampahku.

Gara-gara peristiwa itu, tempat sampah kutaruh dahulu di dalam kamar. Keputusan ini sebenarnya tidak sehat buat penghuni kamar. Namun, aku ingin gangguan yang menyerangku berkurang. Perkiraanku ternyata melesat. Teror ini masih rajin menggangguku. Ada yang coba-coba mengganggu ketenteramanku. Siapa sih oknum ini?

Baca Juga: Gadis Penjaja Kopi

—–

“Elo telat banget hari ini?”

“Maaf, Bro. Urusan sampah lagi nih.”

“Belum beres juga tuh?”

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Percakapan sampah tidak aku lanjutkan. Pikiranku melayang, mencari-cari siapa suspek yang melakukan kekotoran ini.

Ibam, penghuni sebelahku? Pemuda asal Sulawesi ini baik terhadapku. Ia ramah, sering menyapaku ketika berpapasan. Kadang kami ngobrol soal pekerjaan kami, atau hobi kami yang sama-sama doyan sepak bola. Karena merasa dekat dengan Ibam, aku kadang tidak sungkan meminta tolong kepadanya. Begitu pula sebaliknya. Seingatku, belum ada silang pendapat dengannya yang bisa mendorongnya melakukan perbuatan pengecut ini.

Pujo? Penghuni asal Pati di sebelah kamar Ibam ini pun, seingatku, tidak memiliki masalah denganku. Kami sering berbasa-basi. Tidak lebih dari itu. Pujo itu bekerja di sebuah perusahaan ritel. Ia selalu masuk shift siang, sehingga kami lebih banyak bertemu di akhir pekan. Itu pun tidak setiap minggu bertemu. Namun, ketika bertemu, Pujo ini seperti menabung obrolan karena sudah lama tidak bertemu. Banyak topik pembicaraan yang dia bahas. Kadang kalau tidak disetop, dia akan terus cerita apa pun.

Ardi? Ini satu-satunya penghuni yang kurang akrab denganku. Penghuni kamar antara Pujo dan Eko–yang tinggal di ujung berlawanan dengan kamarku—adalah staf personalia (HRD) sebuah perusahaan besar. Karena merasa strata pekerjaannya lebih tinggi, ia agak malas bergaul denganku yang cuma staf marketing perusahaan leasing. Sikapnya terbaca ketika berpapasan ia selalu ingin disapa duluan. Kalau enggak disapa, ia cuma melengos saja. Tidak peduli dengan pandangan anehku terhadapnya. Cara bicaranya pun tinggi, bahkan terkesan arogan. Sikapnya yang sok pejabat ini pun membuat Ardi kurang disukai Pujo dan Ibam. Setidaknya itu menurut pengakuan dua orang itu.

Eko? Penghuni kos-kosan paling ujung ini adalah pendatang asal Cilacap. Usianya hanya terpaut satu-dua tahun lebih muda dariku. Pekerjaannya sebagai tenaga pengajar di sebuah SMU negeri membuatnya lebih bijak ketika menghadapi kami semua. Karena itu, ia bisa menyesuaikan diri dengan siapa pun, seperti halnya ia berhadapan dengan siswa-siswa sekolah yang berbagai macam karakter. Seorang Ardi pun menaruh hormat pada Eko, ketimbang kepadaku yang jelas-jelas penghuni paling tua di kos-kosan ini.

Dari semua penghuni, kecurigaanku memang lebih condong pada Ardi. Namun, aku sulit menerimanya sebagai terduga utama. Rasanya tidak mungkin ia berani melakukan perbuatan bodoh itu, meski sikapnya memang menyebalkan.

Aku sempat curiga pada Ibu Kos. Kok dia seperti tidak peduli dengan keluhanku tadi pagi? Jangan-jangan…ini peringatan telat bayar uang kos. Masa sih? Aku kan termasuk orang yang tepat waktu untuk bayar bulanan. Selama dua tahun kos di sini, aku baru dua kali telat. Itu pun karena ada alasan yang tepat. Aku pun sudah jelaskan kepada Ibu Kos soal keterlambatan itu. Ia pun mengerti dengan kesulitanku.

Dibanding dengan yang lain, aku hanya kalah dari Ardi yang tidak pernah lewat dari jatuh tempo sekali pun. Ibam bahkan paling sering telat bayar. Jadi, tidak mungkin kalau aku yang kena teror Ibu Kos.

Lalu, siapa lagi suspeknya? Belum sampai kesimpulanku tersusun, “Woi, kok melamun?” Sebuah tepukan mengagetkanku. “Ayo, lari lagi.”

—–

Kos-kosanku yang tidak terlalu besar memang menghadap jalan setapak. Motor atau orang sesekali lalu lalang melewati kamar kosku. Ada lima kamar di tempat kosku. Aku berada di kamar ujung paling kiri. Sebelah kiri kamarku adalah rumah Ibu Kos yang dipisahkan dengan pagar bambu dan semak-semak kecil. Jika ingin bertemu Ibu Kos, kami harus keluar kos-kosan dahulu. Baru berjalan menuju rumahnya, karena tidak ada jalan pintas ke rumah Ibu Kos.

Posisi kos-kosanku cukup strategis jika ada yang berniat iseng kepada kami. Sambil lewat, mereka bisa saja masuk ke halaman kami yang hanya dijaga tembok setinggi 50 cm dengan pagar besi tua yang tidak terkunci. Lima penghuni kos ini tidak selalu ada di tempat pada siang hari terutama di hari-hari kerja. Masing-masing punya kesibukan.

Aku sendiri kadang bertemu satu-dua dari mereka kala pulang dari kantor atau ketika libur pekan. Akhir pekan menjadi hari kemerdekaan kami untuk bersemedi di kamar masing-masing, melepaskan penat setelah lima hari berkutat dengan urusan kantor. Kadang kami saling berkunjung ketika ada keperluan, biasanya bertemu Ibam atau Pujo. Tetapi, sebenarnya kami lebih banyak menghabiskan waktu sendiri-sendiri.

Kejadian tadi pagi akhirnya mendorongku untuk singgah ke kamar Ibam, yang mungkin saja bisa memberikan petunjuk soal peristiwa tersebut. Kulihat pemuda berambut ikal asal Sulawesi ini sedang duduk di atas kasur. Matanya terfokus pada layar kecil di telepon genggamnya. Kuketuk pintu kamarnya yang terbuka itu. Ia melihatku, dan segera bangkit.

“Ada apa, Bang?

“Sibuk?”

“Nggak. Ada apa, Bang?” Kami berdua pun keluar kamar, lalu duduk di teras depan kamar.

“Ada yang iseng ke gue nih. Sengaja buang sampah-sampah di tempat gue. Ini sudah yang ketiga. Lihat sesuatu yang mencurigakan nggak? Tadi pagi atau malam orang nggak jelas keluar-masuk dari sini satu dua hari ini?”

“Aku dengar kasus Abang dari Mas Eko. Tapi dua-tiga hari ini enggak lihat yang aneh-aneh sih di sini. Kebetulan juga aku pulang malam terus, Bang.”

“Subuh tadi?”

“Tadi aja kesiangan salatnya. Aku bangun ketika Abang buka pintu kamar.”

“Maaf, Bang. Aku nggak bantu banyak. Tapi kalau memang ada yang aneh aku pasti bakal langsung bilang ke Abang.”

Jawaban tetangga sebelahku ini kurang memuaskan. Kureka ulang kejadian tadi pagi. Aku buka pintu jam 5-an. Di luar sudah terlihat sedikit terang. Sekeliling kos-kosan masih sepi. Jalan depan rumah pun demikian. Aku sedikit menyesal, tidak spontan bergerak ke jalan sesaat setelah melihat sampah-sampah terkutuk itu. Siapa tahu si oknum itu sedang bergegas menghindar, agar tidak terlihat diriku.

Eko, penghuni kos yang berada di ujung berlawanan dari kamarku, tahu kejadian yang pertama kali. Ia datang berbarengan denganku di kos-kosan, dan juga melihat sampah-sampah yang tergeletak di depan kamarku. Eko bahkan membantuku membersihkan sampah-sampah itu.

“Oh ya, Bang. Sebenarnya aku sempat lihat sampah-sampah itu di depan kamar abang ketika pulang tadi malam. Tapi aku tidak terpikir itu kejadian yang diceritakan Mas Eko kemarin.”

Nah, petunjuk ini yang kucari.  “Jam berapa tuh?”

“Sepuluh malam kayaknya. Bentar-bentar, hmmm iya sepuluh malam aku sampai sini…. Aku sempat heran, kok Abang nggak beresi itu sampah. Lalu, kulihat kamar Abang sudah gelap. Ah besok pagi saja aku ke tempat Abang. Bilang soal sampah itu. Eh akunya kesiangan, Bang.”

Oh, jadi peristiwa itu berlangsung tadi malam. Aku mengingat-ingat kembali. Masuk kamar pukul 8 malam. Setelah mandi, dan menyelesaikan yang lain-lain, aku matikan lampu pukul 9. Aku memang tidak langsung tidur. Namun, aku tidak ingat berapa lama mataku terbuka hingga akhirnya tertidur. Aku hanya bisa perkirakan si oknum ini melakukan aksinya antara pukul 9.30-10 malam. Dia kan pasti tidak butuh waktu lama buat buang sampah-sampah itu.

Makin banyak pertanyaan yang berkecamuk di benak. Siapa oknum ini? Apa sih maunya?

—–

Setelah salat subuh, aku menengok teras depan dari kaca jendela. Bersih kayaknya, pikirku. Apa yang kukhawatirkan sepertinya tidak terjadi. Namun, hati ini masih belum yakin. Kubuka pintu perlahan-lahan. Teras depan persis seperti kutinggal tidur tadi malam. Lantainya juga. Tidak ada yang berubah.

Kupindahkan perhatian ke pojok teras depan yang berbatasan dengan rumah Ibu Kos, berharap ada bukti baru yang menguatkan kekhawatiranku. Lagi-lagi tidak kutemukan apa pun. Si oknum sepertinya meliburkan diri pagi ini.

“Mas, lagi cari apa?”

Aku balik badan. Pujo, penghuni kamar sebelah Ibam, sudah siap dengan pakaian olah raganya.

“Aku bawa kantong biru tadi malam. Tapi aku lupa bawa masuk. Kutaruh di sini. Kamu lihat ndak?” kataku berbohong, sambil menunjuk-nunjuk tempat aku seolah-olah menaruh di situ.

“Ndak, Mas. Aku keluar kamar tadi jam 5, ndak ada apa-apa di tempat Mas.”

Sebelum Pujo melanjutkan omongan, aku segera masuk kamar. Berpura-pura mencari kantong imajinasiku. Pagi ini, terasku bersih dari teror sampah. Apakah si oknum tahu kalau aku mulai waspada dan terus memantau teras depan rumah? Atau ia menungguku lengah?

Untuk melanjutkan kebebasan dari teror ini, aku berusaha untuk tidak keluar dari kos-kosan seharian ini. Pintu kamar sengaja kubuka lebar-lebar agar orang luar tahu bahwa penghuninya sedang ada di tempat. Aku bahkan rela menitip pesanan makan siang pada Ibam agar pengawasanku tidak terputus. Ada semacam kemenangan dalam diri bahwa si oknum itu tersiksa karena tidak punya kesempatan buat menggangguku.

Dalam aktivitas yang tidak penting itu, aku berusaha menyibukkan diri. Aku lakukan berbagai hal, dari mengecek telepon genggam, berkomunikasi dengan teman-teman di grup, menonton TV, membuat laporan kantor yang tidak kunjung selesai, hingga merapikan kamar. Muncul godaan untuk kumpul dengan teman-teman di saat akhir pekan. Tapi, aku tahan keinginan itu karena aku mau tuntaskan rasa penasaranku.

Malam pun tiba. Aku siapkan strategi baru. Lampu kamar sengaja kumatikan, dan aku mengintai dari balik gorden. Siapa pun yang berjalan di jalan setapak itu aku ikuti gerak-geriknya hingga mereka tidak terlihat. Aku berharap ada satu orang atau mungkin Si Ardi yang kuharapkan melakukan itu supaya aku bisa menangkap basah.

Hari semakin larut. Jalanan di depan sudah makin sepi. Yang kudengar hanya suara jangkrik, dan gonggongan anjing di kejauhan, yang mengisi keheningan malam. Kulihat jam, jarum menunjukkan ke angka 9.30. Waktu tersebut merupakan tanda bagiku untuk tidur. Besok sudah mulai bekerja lagi. Kutinggalkan bangku pengawasan, balik ke peraduan. Kurebahkan badan di antara bantal-bantal yang sudah tersusun. Selimut kutarik. Tapi, mata masih terbuka. Kupertajam indera pendengaran, mungkin saja ada suara yang tidak biasa muncul. Aku tidak ingat berapa lama melakukan hal itu hingga akhirnya tertidur.

Tujuh jam berlalu. Kumandang azan subuh sayup-sayup terdengar. Rasanya berat untuk bangun. Aku masih ingin melanjutkan tidur lagi. Baru saja terbuai mimpi, tiba-tiba alarm berbunyi kencang sepuluh menit kemudian. Kali ini, aku benar-benar bangun. Namun, yang membuatku bangun sebenarnya karena ingat seolah-olah ada orang di depan kamarku. Aku bergegas ke pintu, dan langsung kubuka. Yang kulihat hanya pemandangan gelap di depan dan keadaan sepi di waktu subuh. Tidak ada sesuatu yang luar biasa.

Aku pun mulai jengkel. Usahaku sejak kemarin sepertinya sia-sia. Buang-buang waktu saja, pikirku. Kekecewaan ini sedikit berkurang karena aku bisa melakukan salat subuh tepat waktu. Akhirnya, kuputuskan untuk tidak memikirkan lagi ulah si oknum ini. Fokusku kini hanya pada pekerjaan saja.

—–

Pukul 7 malam aku tiba di kos-kosan. Seperti yang aku tinggalkan tadi pagi, keadaan  teras depan kamar tetap seperti semula. Meski senang, aku sedikit kecewa karena teror itu hilang tanpa aku berhasil memecahkannya. Tiga hari kemarin oknum itu berhasil mengacaukan pikiranku dengan konspirasi sampah-sampah ini yang berakhir tidak jelas. Namun, aku bisa mengambil hikmah bahwa aku bisa kembali menikmati keseharianku dengan normal.

Keesokan hari, gangguan itu tetap tidak muncul. Perasaan waswas bahwa si oknum itu akan balik meneror perlahan-lahan mulai hilang. Begitu pula di hari berikutnya, dan besoknya lagi. Aku merasa telah bebas dari pengalaman menyebalkan sebelumnya. Kejadian minggu lalu telah aku lupakan.

—–

Jumat itu aku pulang agak malam dari biasanya. Hari itu merupakan hari terakhir teman kantor bekerja di kantor kami. Karena itu, ia mengajak kami untuk makan-makan sebagai pesta perpisahan dengannya. Pukul 10 malam, aku tiba di kos-kosan. Perut kenyang. Badan kelelahan. Kondisi ini membuat tempat tidur menjadi tempat favoritku untuk melepaskan semuanya.

Kubuka pintu pagar dengan santai. Berjalan gontai, perhatianku terfokus pada percakapan beberapa teman di grup WhatsApp. Ketika masuk teras depan kamar, aku mengangkat kepala dan tertegun.

Sampah-sampah itu….

(Yulius Martinus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *