11 July 2024
Memastikan kata terbaik. (Ilustrasi: Asep Herna)

Memastikan kata terbaik. (Ilustrasi: Asep Herna)

Oleh Asep Herna, Founder The Writers
Bagi seorang penulis, kata bukan sekadar susunan gramatikal semata. Kata adalah citarasa estetika. Demikianlah, penulis, telah seharusnya, memperhitungkan dengan matang, sekaligus memilih kata terbaik untuk mengekspresikan dirinya.

Anak saya mendapat tugas menulis puisi. Sebelum ia kasih ke gurunya, ia memperlihatkan puisi itu ke saya. Begini petikannya:

๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฉ

๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข

๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ช

Puisi ini baik-baik saja. Namun bagi saya, ini momen yang tepat untuk mengajarkan anak saya, agar tidak cepat puas dengan hasil karyanya. Sekalian secara tidak langsung saya ingin membuatnya tahu, tentang bagaimana teknik menciptakan efek estetik pada tulisannya.

Beberapa kali saya ingin mengajarkan anak saya bagaimana cara mengekspresikan perasaannya lewat bahasa, tapi, rupanya, ia tak begitu tertarik. Maka, inilah momen yang paling tepat.

Mengutak-atik Kata

โ€œDe, sebetulnya, tanpa mengubah susunan yang kamu buat, setiap kata pada kalimat โ€˜Kau adalah sosok kukuhโ€™ bisa kamu ganti, lho,โ€ kata saya.

โ€œMaksudnya, Pah?โ€

Agar anak saya lebih mudah memahami maksud saya, akhirnya, kalimat di atas saya tuliskan di kertas:

Kau adalah (sosok kukuh)

โ€œTanpa mengubah arti, dan dengan mempertimbangkan bahwa kalimat ini tetap punya makna, coba kamu ganti kata yang ada di dalam kurung ini,โ€ kata saya.

Anak saya mulai tertarik, lalu ia mencari pilihan kata lain untuk menggantikan frasa โ€œsosok kukuhโ€ ini.

โ€œSaya ganti dengan kata โ€˜ayahโ€™ boleh?โ€

โ€œJelas boleh,โ€ tukas saya.

โ€œKalo dengan โ€˜matahariโ€™ bisa?โ€

โ€œLebih keren dari sebelumnya tuh.โ€

Makin lama anak saya makin hanyut, terus mencari kata-kata alternatif lain di dalam 1 kalimat itu.

Begini kira-kira rangkaiannya:

Kau adalah ๐˜€๐—ผ๐˜€๐—ผ๐—ธ ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ต

Kau adalah ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ต

Kau adalah ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ

Kau adalah ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ต

Kau adalah ๐—ฏ๐˜‚๐—บ๐—ถ

Kau adalah ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด

Anak saya kemudian memutuskan frasa โ€œbatu karangโ€ sebagai pengganti kata “kukuh” tadi.

โ€œSekarang, coba kamu ganti pilihan kata yang mana saja, di dalam kalimat kedua โ€˜Yang tangguh menahan deritaโ€™ ini,โ€ tantang saya.

Lalu anak saya kembali mengutak-atiknya, seperti ini:

Yang tangguh menahan ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ

Yang tangguh menahan ๐˜€๐—ฒ๐—ฑ๐—ถ๐—ต

Yang tangguh menahan ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฑ๐—ถ๐—ต

Yang tangguh menahan ๐—ผ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ธ

Yang tangguh menahan ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚ ๐—น๐—ฎ๐˜‚๐˜

Ia berhenti di pilihan kata โ€œderu lautโ€, karena ia merasa ada keselarasan makna dengan kata โ€œbatu karangโ€ di baris puisi sebelumnya.

โ€œSebetulnya kata โ€˜tangguhโ€™ dan โ€˜menahanโ€™ pun bisa kamu ganti, De. Misal menjadi โ€˜Yang ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚ ๐—น๐—ฎ๐˜‚๐˜โ€™, atau dengan yang lain,โ€ saya menawarkan ide. Namun, ia memutuskan dengan pilihannya. Mungkin karena egonya, yang merasa ingin karyanya otentik buah pikir dia.

โ€œSekarang, coba yang baris ketiga, De.โ€

Lalu dengan semangat, kembali ia menggerakkan jari-jarinya, tanpa mikir, hanyut dalam pengembaraan imajinasinya.

Sendiri dalam ๐˜€๐—ฒ๐—ฝ๐—ถ

Sendiri dalam ๐˜€๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ

Sendiri dalam ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ

Sendiri dalam ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฑ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป

Sendiri dalam ๐—ฑ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ป

Sendiri ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ต ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ถ๐˜

Sendiri dalam ๐—น๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜

โ€œAku pilih kata โ€˜larutโ€™, Pah,โ€ ujarnya sambil nyengir.

โ€œKenapa?โ€

โ€œKarena bunyinya selaras dengan ‘laut’, kata terakhir di baris sebelumnya.โ€

โ€œKerennnn!โ€ kata saya memahami alasan dari pilihannya.

Keranjingan

Anak saya betul-betul keranjingan dengan metode permainan pemilihan kata seperti ini. Ia tetap merasa bahwa kreativitasnyalah yang bekerja, dan memang begitu adanya. Saya hanya membuka jalan pikir dan caranya saja.

Hasilnya, jelas terasa lebih metaforik dari tulisan dia sebelumnya.

Coba bandingkan petikan puisi yang sudah dia utak-atik ini, dengan petikan puisi dia sebelumnya seperti yang saya tulis di atas:

๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ

๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต

๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต

โ€œBenar-benar beda, Pah. Kok bisa ya?โ€

โ€œYa bisa lah. Apa yang papa ajarin tadi, sebetulnya terinspirasi dari teori Relasi Sintagmatik dan Paradigmatik. Ini pernah dicetuskan salah satunya oleh Ferdinand de Saussure, tokoh linguistik struktural,โ€ kata saya, mulai mengarahkan ke hal yang agak lebih rumit.

โ€œWah โ€ฆ wah โ€ฆ gimana tuh, Pah?โ€ rupanya anak saya tertarik. Padahal biasanya ia langsung menghindar.

Relasi Sintagmatik

Relasi sintagmatik, kata saya, adalah hubungan logis antarunit bahasa, sehingga bahasa itu dipahami. Misal kalau dalam kalimat โ€œKau adalah sosok kukuhโ€, bagaimana kata โ€œadalahโ€ bisa harmonis dengan kata โ€œkauโ€ dan dengan kata โ€œsosokโ€. Begitu juga kata โ€œsosokโ€ bisa harmonis baik secara fungsi ataupun maknanya dengan kata โ€œkukuhโ€.

Kata-kata tersebut bisa diganti dengan pilihan kata apapun, sepanjang kata tersebut memiliki hubungan harmonis dengan kata-kata di sampingnya. Jadi, relasi sintagmatik itu relasi linear, menyamping, dalam sebuah kalimat. โ€œKaya hidup bertetangga aja, relasi sintagmatis adalah hubungan harmonis antara satu rumah dengan rumah lain di sampingnya. Kalau tidak harmonis, pasti ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฐ๐˜ด,โ€ kata saya membuat analogi.

Coba kita buat contoh hubungan sebaliknya ya, tidak harmonis. Misal, kata โ€œsosok kukuhโ€ dalam kalimat โ€œKau adalah sosok kukuhโ€, diganti dengan kata โ€œmerupakanโ€. Maka kalimatnya menjadi โ€œKau adalah merupakanโ€. Kalimat ini jelas tidak dimengerti, kan? Jadi, betapa penting harmonisme dalam hubungan sintagmatik ini.

โ€œNah, kenapa tadi kamu merasa asyik banget menggonti-ganti kata di setiap kalimat puisimu, bahkan setiap kata bisa kamu ganti, itu karena secara alamiah, kamu sudah punya sekumpulan kata di luar sana, yang punya hubungan erat dengan kata yang kamu pilih sebelumnya. Kamu bisa menggonta-ganti kata tersebut dengan kata sejenis lainnya. Hubungan erat tersebut dinamakan Relasi Paradigmatik.โ€

โ€œWah, menarik nih, Pah?โ€ Tumben, anak saya antusias dengan teori linguistik yang jelimet ini. โ€œJadi, bedanya relasi paradigmatik dengan relasi sintagmatik tadi apa, Pah?โ€

โ€œArah hubungannya,โ€ tukas saya. โ€œKalau relasi sintagmatik hubungannya ke samping, yaitu hubungan antara satu kata dengan kata di sekelilingnya dalam sebuah struktur kalimat. Sementara relasi paradigmatik sifatnya vertikal, yaitu hubungan kata dengan kata lain di luar struktur kalimat tersebut.โ€

Anak saya yang masih SMP ini terlihat manggut-manggut, walau jidatnya sedikit mulai berkerut.

Relasi Paradigmatik

Contoh hubungan paradigmatik di puisi kamu, kata โ€œKauโ€ dalam kalimat โ€œKau adalah sosok kukuhโ€, bisa saja kamu ganti dengan kata โ€œDiaโ€, โ€œAkuโ€, โ€œKitaโ€, โ€œGuruโ€, โ€œPak Doniโ€, โ€œPresidenโ€, โ€œAbang Becakโ€, dan ratusan ribu kata lain di luarnya, tanpa mengubah struktur kalimatnya.

Relasi paradigmatik sifatnya bebas, yang penting memiliki kelas serta medan makna yang sama. Namun dalam aplikasinya, dia mesti tertakluk pada relasi sintagmatis. Dia harus harmoni dan berterima dengan kata-kata di sekelilingnya.

Kalimat โ€œ๐——๐—ถ๐—ฎ adalah sosok kukuhโ€ ketika diganti menjadi โ€œ๐—”๐—ธ๐˜‚ adalah sosok kukuhโ€, secara paradigmatik dan sintagmatik tetap harmoni, walau muncul makna dan rasa yang berbeda. Jika diganti dengan kata โ€œ๐—”๐˜†๐—ฎ๐—บ adalah sosok yang kukuhโ€, mungkin secara sintagmatik berterima, tapi dari sisi paradigmatik, tidak, karena โ€œAyamโ€ tidak memiliki hubungan asosiatif dengan โ€œDiaโ€.

โ€œAsyik banget ya, Pah. Sebenarnya, relasi paradigmatik dan sintagmatik itu bisa diaplikasikan juga dalam kehidupan real kita ya, bukan cuma sebagai fenomena bahasa saja.โ€

โ€œContohnya gimana, De?โ€ kini saya yang mulai terpicu mendengar pemikirannya.

โ€œIni mirip prinsip โ€˜the right man in the right placeโ€™ ya kalau dalam managemen.โ€

โ€œWaaah, ini betul banget, De. Papa setuju. Misal suatu saat kamu jadi presiden, terus kamu mau milih Menkominfo. Secara paradigmatik semua orang berhak dipilih. Bisa โ€œAhli Komunikasiโ€, โ€œAhli ITโ€, โ€œAhli Kebijakanโ€, “Wartawan”, โ€œAhli Managemenโ€, โ€œPolitisiโ€, โ€œPenjudiโ€, โ€œPenjahatโ€, โ€œPengemisโ€, ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ช๐˜ต. Tapi jangan lupa prinsip sintagmatik tadi. Pilih orang yang tepat mengisinya, dan pas dengan lingkungan kerjanya.โ€

Anak saya tampak mulai merasa ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ enak mendengar celoteh saya. Tapi ia masih sabar menyimak.

โ€œKalo misal kamu malah milih โ€œPengemisโ€ jadi Menkominfo, bisa celaka negara kita, ntar, kan?โ€

Ayo Berlatih

Aduh, lagi bahas estetika kata kok malah ngelantur. Baiklah, sekarang saya giliran menantang Anda, pembaca semua. Kalau Anda ingin menjajal seperti apa asyiknya mengutak-atik kata seperti di atas, sila ganti kata yang ada di dalam kurung di bawah ini. Buat se-estetik mungkin, menurut versi Anda. Bisa semuanya, bisa sebagiannya saja. Bebas. Silakan ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜บ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ dan tulis ulang di kolom komen. Lalu lihat, Anda akan keget sendiri, karena citarasanya pesti berbeda. Selamat mencoba.

Berikut teksnya:

(Matahari) (menerangi) (bumi)

(Sementara) (aku) (sedang) (menapaki) (jalan)

(Angin) hanya bisa (mendesau)

(Berisik) (di sela) (dedaunan)

*

Bila Anda ingin mendalaminya lebih jauh lagi, silakan ikuti Pelatihan The Writers, 6 Juli 2024 besok. Ada 8 sesi yang siap dipandu oleh saya, Asep Herna, dan Om Budiman Hakim.

Daftar segera via WA di: 0811-8774-466. Atau, informasi detail tentang modulnya silakan klik link ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *