11 July 2024

Tiga wanita di Yunani kuno memainkan alat musik. (The Conversation)

Anda suka melantunkan lagu-lagu favorit? Atau mendengarkan lagu-lagu band kesayangan?

Ya, lagu, disertai peralatan musik yang mengiringi, adalah salah satu karya cipta manusia yang bisa menemani seseorang di kala sedih, galau, ataupun senang. Lagu dan musik juga menjadi salah satu media untuk memperbaiki mood alias rasa hati, emosi, atau malah menjadi sumber inspirasi dan obat terapi.

Tapi, tahukah kamu, kapan manusia di bumi ini pertama kali melantunkan lagu atau menciptakan alat musik?

Anugerah Para Dewa

Tidak ada bukti sejarah ataupun bukti arkeologis yang dapat memberi tahu kita secara pasti siapa yang menyanyikan lagu pertama kali, bersiul lagu pertama kali, atau membuat suara ritmis pertama yang menyerupai apa yang kita kenal sekarang sebagai alat musik.

Namun para antropolog, arkeolog, ahli bahasa, dan musikolog menelusuri bahwa kegiatan “bernyanyi” dan menciptakan alat musik atau bebunyian sudah dilakukan manusia sejak ribuan tahun lampau.

Peradaban paling awal di Afrika, Eropa, dan Asia, misalnya, percaya bahwa musik adalah ciptaan ilahi, anugerah dari para dewa mereka. Dewa-dewi dari banyak agama dan mitologi diasosiasikan dengan musik.

Dewa Afrika Àyàn, misalnya, dikenal sebagai seorang penabuh genderang. Lalu, dalam mitologi Yunani, Apollo dikisahkan sebagai dewa yang senang memainkan kecapi. Apollo dikenal sebagai dewa musik, puisi, dan peramalan Yunani. Apollo juga pemimpin para Muses, dewi-dewi cendekiawan dalam dunia literasi, ilmu pengetahuan, dan seni. Ia juga ayah musisi mitologi Yunani terkenal, Orpheus dan Linus. Dalam mitologi Mesir, Meret dikenal sebagai dewi yang suka bersukacita. Ia senang menyanyi dan menari dalam kesehariannya. Dalam agama Hindu, ada Saraswati, yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan musik. Dalam mitologi Slavia, ada Veles sebagai dewa untuk bumi, air, ternak, dan musik. Dalam mitologi Tiongkok, Han Xiangzi dikenal sebagai salah satu Delapan Dewa dalam kepercayaan Taoisme, yang disimbolkan dengan seruling dan diyakini sebagai komposer karya musik Taoisme, Tian Hua Yin. Selain Han Xiangzi, ada Fuxi dan Sunu yang dipercaya sebagai dewa/dewi musik. Dalam mitologi Jepang, ada Benzaiten yang digambarkan memegang biwa—mutiara yang bentuknya sedikit gepeng—atau kecapi. Suku Maya juga mengenal Sak Nik dan Ah-Xoc-Xin sebagai dewa musik dan kecapi. Adapun dalam Book of Genesis (Kitab Kejadian)—buku pertama Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama Kristen—Jubal, seorang tokoh yang disebutkan dalam Alkitab Ibrani, diidentifikasi sebagai bapak harpa dan seruling.


BACA JUGA: ‘Au Claire De La Lune’, Rekaman Lagu Tertua (2)


Dikenali lewat Artefak

Banyak peninggalan dan artefak yang juga menceritakan bagaimana dan mengapa orang-orang zaman dulu memainkan musik.

Beberapa ahli mengatakan nyanyian adalah jenis suara musik yang pertama. Bukan berarti orang-orang saat itu menyanyikan lagu-lagu berdurasi penuh. Sebaliknya, mereka membuat suara vokal yang lebih sederhana, mungkin hanya beberapa nada yang digabungkan. Jika hal itu benar, bisa jadi manusia purba mulai berbicara dan bernyanyi pada waktu yang hampir bersamaan.

Lalu, mengapa mereka bernyanyi? Salah satunya, menurut para ahli, mungkin terdorong menirukan sesuatu yang dianggap indah, seperti suara-suara burung. Tiruan vokal dari suara binatang lain mungkin juga digunakan untuk berburu, seperti panggilan untuk burung atau ayam.

Nyanyian juga disinyalir sebagai cara untuk berkomunikasi dengan bayi dan anak usia balita, seperti lagu pengantar tidur versi awal. Sekali lagi, kala itu mereka diduga kuat tidak menyanyikan melodi atau lagu yang lengkap, seperti lagu “Nina Bobo” sekarang. Membutuhkan waktu berabad-abad untuk mengembangkan lagu pengantar tidur kuno itu menjadi seperti sekarang.

Seperti lagu-lagu gereja di Eropa pada abad pertengahan. Pada awalnya hanya ada satu melodi vokal, yang dinyanyikan oleh seorang solois atau sekelompok kecil pendeta laki-laki. Para biarawati juga belajar menyanyi di biara. Belakangan, polifoni—salah satu jenis musik yang disusun berdasarkan banyak suara—menjadi semakin umum. Dalam polifoni, dua, tiga, atau empat suara masing-masing menyanyikan melodi yang berbeda sehingga menambah kompleksitas suara.

Alat Musik Kuno

Soal peralatan musik, para arkeolog telah mempelajari alat musik kuno dari artefak yang mereka temukan. Misalnya, mereka menemukan seruling dan peluit yang terbuat dari tulang, tembikar, dan batu.

Para arkeolog menggunakan proses yang dikenal sebagai penanggalan karbon-14 (radiokarbon) untuk mengetahui berapa umur instrumen tulang tersebut. Penanggalan radiokarbon adalah suatu metode penentuan usia suatu obyek yang mengandung materi organik dengan memanfaatkan sifat radiokarbon, suatu isotop radioaktif dari karbon. Semua organisme hidup—hewan, tumbuhan, ataupun manusia—mempunyai karbon-14 di dalamnya. Ketika mereka mati, jumlah karbon-14 berkurang, sedikit demi sedikit, selama bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, dan berabad-abad.

Ketika para ilmuwan mengukur berapa banyak karbon-14 yang tersisa di seruling—yang terbuat dari tulang burung besar—mereka menemukan beberapa instrumen berusia lebih dari 30 ribu tahun!

Di Jepang, para arkeolog menemukan beberapa peluit dan kerincingan kuno yang terbuat dari batu atau tanah liat. Usianya ditaksir 6.000 tahun. Melalui lubang semburnya yang kecil, instrumen ini menghasilkan nada yang tinggi dan melengking. Mereka yang menggunakannya mungkin mengira suara-suara itu sungguh ajaib dan memainkannya selama ritual keagamaan. Ketika ditemukan, beberapa peluit batu itu masih bisa mengeluarkan suara.

Di Tiongkok, lonceng tembikar, yang mungkin merupakan nenek moyang lonceng perunggu, muncul setidaknya 4.000 tahun silam. Sementara itu, di Yunani, instrumen seperti krotola—seperangkat balok berlubang yang diikat dengan kulit—dimainkan sekitar 2.500 tahun yang lalu. Orang Yunani juga menggunakan simbal jari dan drum bingkai.

Di Afrika, lukisan dan ukiran batu berusia 4.000 tahun yang ditemukan di makam Mesir memperlihatkan para musisi memainkan sesuatu yang tampak seperti harpa.

Sementara itu, tembikar Yunani sering kali menggambarkan adegan musik, yang kerap muncul di hiasan vas dan guci. Namun pengaturannya kerap kali tidak jelas. Apakah para musisi tersebut merupakan bagian dari festival atau perayaan, atau sekadar bermain untuk hiburan mereka sendiri, tidak selalu diketahui.

Manuskrip abad pertengahan buatan tangan juga memberi petunjuk. Ilustrasi dengan tinta, dan terkadang daun emas, acap kali memperlihatkan musisi sedang memainkan alat musik.

Di sisi lain, alat musik juga dapat diasosiasikan dengan tipe orang yang berbeda. Para penggembala memainkan syrinx, alat musik mirip peluit, yang sekarang dikenal sebagai pan flute. Itu adalah instrumen sederhana yang mudah dibawa ke lapangan. Adapun aulos adalah alat musik tiup kayu yang lebih canggih yang terdiri atas dua pipa. Karena dibutuhkan lebih banyak keterampilan untuk memainkan aulos, Anda memerlukan pelatihan dari seorang guru.

(S. Maduprojo, disarikan dari The Conversation dan bahan lainnya)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *