11 July 2024

Foto: Freepik.com

Ini bahasan penting enggak penting. Tapi saya yakin masih banyak orang yang enggak ngeh bahwa selama ini sudah banyak yang kurang tepat dalam menyebutnya.

Ini cerita soal teh, namanya “teh” rosela. Indah namanya, bukan?

Rosela (Hibiscus sabdariffa), asam kumbang, asam susur, asam paya, atau rosella merupakan spesies bunga yang berasal dari benua Afrika. Mulanya bunga ini dijadikan penghias halaman rumah. Oleh sebagian orang, ia lantas diseduh sebagai minuman hangat pada musim dingin dan minuman dingin pada musim panas. Sejumlah literatur mengungkapkan berbagai khasiat air seduhan bunga rosela ini, dari mengurangi lemak jahat, mengontrol gula darah, hingga menambah kecantikan. Nah, lantas, apa pasalnya air seduhan bunga rosela ini dibilang salah sebut selama ini?

Begini, selama ini, banyak yang menyebut air seduhan dari bunga rosela teh rosela. Pertanyaannya, apakah air seduhan bunga rosela ini termasuk atau sudah tepat disebut jenis teh? Coba kita lihat definisi teh (tea) ini. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjabarkan teh sebagai berikut:

– n pohon kecil, tumbuh di alam bebas, daunnya berbentuk jorong atau bulat telur, pucuknya dilayukan dan dikeringkan untuk dibuat minuman (di pabrik dan sebagainya)〔Camellia sinensis〕

Lalu, kita lihat definisi teh dari Oxford Language/Oxford English Dictionary:

1. a hot drink made by infusing the dried crushed leaves of the tea plant in boiling water. “Catherine sipped her tea”

– The dried leaves used to make tea. plural noun: teas. “Tea from India and Ceylon”
– A hot drink made from the infused leaves, fruits, or flowers of other plants. “Herbal tea”

2. The evergreen shrub or small tree that produces tea leaves, native to South and eastern Asia and grown as a major cash crop.

Dari dua contoh kamus tersebut, tampak jelas bahwa bahan/bagian utama teh adalah “daun”. Kamus Oxford memang menyebut jenis teh herbal yang terbuat dari “infus daun, buah, atau bunga”.

Nah, sekarang, seduhan bunga rosela ini tergolong teh apa bukan, sih? Sebenarnya, ada sebutan yang lebih tepat untuk “teh” rosela ini, yakni tisane. Apa pula tisane ini?

Dari Kisah Kaisar Tiongkok

Tisane memang kurang dikenal dibanding teh. Tisane merupakan variasi teh klasik. Ia tidak mengandung daun teh; sebaliknya, tisane dibuat dengan bumbu, rempah-rempah, bunga, akar, dan aromatik lainnya.

Sepanjang sejarah, tisane digunakan sebagai ramuan kesehatan, minuman suci, dan minuman perayaan. Bagi sebagian orang, meminum tisane yang enak seperti meminum anggur yang nikmat: ada kombinasi rasa, aroma, dan rasa yang luar biasa.

Istilah tisane mengacu pada “teh obat”, yang diperkenalkan sekitar tahun 1931, berasal dari kata “tisane” dalam bahasa Prancis Kuno. Pada abad ke-14, ada istilah “ptisan”, yang berasal dari bahasa Latin “ptisana” dan bahasa Yunani “ptisane”, yang diartikan sebagai “jelai/selai yang dihancurkan”.

Jauh sebelum itu, sebuah literatur menyebutkan asal-muasal tisane dimulai di Tiongkok Kuno, sekitar tahun 2737 Sebelum Masehi. Konon, keberadaan teh herbal atau tisane (teh-zahn) diawali oleh sebuah kisah Kaisar Tiongkok, Shennong. Saat Sang Kaisar sedang duduk-duduk di bawah pohon, sehelai daun dari pohon di atasnya jatuh ke dalam cangkir berisi air mendidih. Ketika melihat air mulai menjadi lebih gelap, dia mempertanyakan air itu. Ia pun mencicipi dan menikmati rasa air dari daun itu dengan cara menyesapnya. Ketika berita tentang penemuan “teh” ini muncul, dan waktu terus berjalan, teh herbal menyebar dari Cina, ke Mesir, Jepang, dan merambah Eropa, dengan kisah masing-masing.

Di Mesir, diungkapkan bahwa Papirus Ebers, kumpulan pengetahuan medis Mesir yang berasal dari tahun 1550 SM, sudah berbicara tentang seduhan daun kamomil (chamomile) dalam air panas. Infus yang dihasilkan dari daun ini digunakan untuk menenangkan pikiran dan menghormati para dewa.

Suku Khoi, suku asli Afrika Selatan, menciptakan tisane dari rooibos, semak pegunungan berwarna merah yang daunnya memberikan aroma manis karamel dan vanila. Saat ini, rooibos merupakan salah satu tisane paling populer di dunia; warna merahnya sangat ikonik dan Anda bisa menemukannya di banyak kafe.

Tisane mint berasal dari Maroko, yang masih populer sebagai minuman pada malam hari. Tisane mint disajikan setelah makan berat untuk membantu pencernaan.

Di Amerika Utara, orang Cherokee dan Iroquois membuat tisane dandelion. Mereka merendam batang dan bunga untuk membuat tonik yang manis dan ringan, yang kemudian akan mereka minum untuk menghilangkan rasa sakit dan menenangkan saraf.

Salah satu tisane yang paling menarik berasal dari Polinesia. Selama perayaan, pertemuan keagamaan, dan pertemuan politik, suku setempat menyiapkan obat mujarab dari akar psikoaktif yang disebut kava. Saat mabuk, kava membuat lidah mati rasa dan menjerat indra, menciptakan rasa nyaman yang rileks seperti yang Anda dapatkan dari alkohol.

Baca Juga: Flexing, Oh, Flexing


Lalu, ini kisah lain dari tisane, yang merupakan perlawanan terhadap teh! Ketika pemerintah Inggris menaikkan pajak teh di Amerika yang menjadikan harga teh sangat tinggi, banyak masyarakat yang marah sehingga terjadi peristiwa Boston Tea Party pada 16 Desember 1773. Saat itu mereka melakukan demo dengan membuang puluhan tong teh dari kapal ke dalam laut. Peristiwa itu akhirnya membuat masyarakat di sana enggan mengkonsumsi teh karena dianggap tidak patriotik. Muncullah alternatif lain, seperti meminum kopi dan membuat tisane. Mereka mencoba meramu tisane dari daun, bunga, atau buah yang dikeringkan untuk diseduh seperti halnya teh. Mereka tetap menyebut air seduhan itu sebagai tea karena ingin prestise minuman ini setara dengan teh.

Dari Bunga, Bukan Daun

“Teh” rosela dibuat dari air seduhan bunga rosela. Secara umum, teh rosela dibuat dari bunga rosela yang sudah mekar. Setelah direbus dan berwarna kemerahan, tisane rosela siap dihidangkan. Untuk mengurangi rasa asam pada rosela, Anda bisa menambahkan madu atau gula sesuai dengan selera. Selain itu, akar atau daun rosela yang dikeringkan bisa dikonsumsi sebagai minuman herbal atau obat. Cara lain menyajikan tisane rosela adalah mengeringkan bunga rosela dengan cara dijemur. Setelah kering, bunga rosela siap diseduh untuk dinikmati sebagai tisane.

Jadi, “teh” rosela yang selama ini dikenal dibuat dari bunga rosela. Melihat proses pembuatannya, air seduhan bunga rosela ini memang lebih tepat disebut tisane, bukan teh. Setuju?

(S. Maduprojo, Bahan rujukan: Favatea.com, The Oxford English Dictionary, Thespruceeats.com, Amatteroftaste.com, dan berbagai sumber lainnya)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *