12 July 2024

Ilustrasi: Freepik.com

Akhir-akhir ini, banyak orang merasa terkena prank. Pelakunya bisa siapa saja; politikus, pejabat pemerintahan, anggota Dewan, selebritas, rakyat biasa, YouTuber, tokoh, sahabat, atau malah keluarga sendiri.

Sebuah prank cenderung disengaja atau dibuat. Tujuannya untuk membuat lelucon atau malah mengelabui banyak orang.  

Masih ingat peristiwa aktivis Ratna Sarumpaet yang mengaku babak belur dianiaya sejumlah orang di Bandung? Menurut Ratna, kasus penganiayaan itu terjadi pada 21 September 2018. Pada 2 Oktober, tak lama setelah foto wajah Ratna bonyok tersebar di media sosial dan media massa, Prabowo Subianto—calon presiden saat itu, dan Ratna adalah salah seorang pendukungnya—ditemani sejumlah tokoh seperti Amien Rais, Fuad Bawazier, Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Djoko Santoso, serta Koordinator Jubir BPN Dahnil Anzar Simanjuntak menggelar konferensi pers dengan tuntutan agar kasus penganiayaan itu diusut tuntas! Ehhh, tak lama kemudian, polisi berhasil membuktikan bahwa Ratna telah membuat berita bohong (hoaks). Pasalnya, pada 21 September itu, saat “peristiwa penganiayaan” terjadi di Bandung, lah, Ratna kedapatan sedang berada di Rumah Sakit Bina Estetika—tempat orang biasa melakukan bedah plastik—di Jakarta! Tak bisa berbuat banyak, Ratna pun akhirnya membuat pengakuan telah mengarang berita bohong tentang penganiayaan, padahal dia sedang melakukan bedah wajah. Tak tahu pasti juga apa maksud Ratna melakukan semua itu. Dia pun dijatuhi vonis hukuman 2 tahun penjara, dan eng-ing-eng, Prabowo bersama jajarannya dan segenap masyarakat Indonesia telah terkena prank Ratna. Mau ditaruh di mana muke ini, begitu kira-kira Prabowo dan timnya saat itu. Tak mengherankan bila banyak orang menjuluki Ratna Sarumpaet sebagai pelaku prank terbaik yang pernah ada di Indonesia.

Kasus prank terbaru yang berujung pada laporan ke kepolisian dilakukan artis sekaligus YouTuber Baim Wong. Pada 1 Oktober lalu, Baim Wong dan istrinya, Paula Verhoeven, melakukan prank dengan berpura-pura melapor ke polisi soal kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)—bersamaan dengan heboh kasus dugaan KDRT yang menimpa pedangdut Lesti Kejora oleh suaminya, Rizky Billar. Berbeda dengan Ratna, Baim mengaku melakukan prank itu untuk “edukasi”. Atau, demi konten, ya? Tak tahulah, hanya Baim yang tahu.

Di YouTube juga lagi seru soal tren nge-prank ini. Ada prank penampakan pocong, kuntilanak, suami selingkuh, sampai lelucon yang aneh-aneh lainnya.

Tapi, sebentar, prank-prenk-prank-prenk, apa sih sebenarnya istilah prank ini?

Prank = April Mop?

Tidak jelas dari mana kata prank ini berasal. Ada yang mengatakan berasal dari bahasa Jerman prunk atau prangen yang bermakna “pamer”. Ada juga yang merujuk pada bahasa Belanda pronken (menampilkan/pamer) atau bahasa Swedia prakt (kemuliaan atau pompa). Sebuah rujukan menyebutkan istilah prank sudah digunakan dalam bidang olah raga pada 1520-an, yang bermakna “trik yang menggelikan”. Pada 1630, istilah prank juga digunakan untuk menyebut salah satu jenis tarian. Cambridge Dictionary mendefinisikan prank sebagai “sebuah trik yang dimaksudkan untuk melucu tanpa menyebabkan bahaya ataupun kerusakan”. Sedangkan American Dictionary mendefinisikan prank sebagai “trik yang dimaksudkan untuk menghibur dan sering membuat seseorang terlihat bodoh”.

Secara teori, prank sering disebut sebagai humor praktis (practical jokes). Pasalnya, selalu ada aksi dalam sebuah prank. Permainan prank balon kentut Whoopee Cushion, misalnya, merupakan gaya lelucon klasik yang banyak dilakukan di Amerika Serikat. Secara etimologis, istilah lelucon praktis pertama kali digunakan sekitar tahun 1804. Sebelumnya, lelucon serupa disebut sebagai lelucon kerajinan tangan (handicraft jokes).

Sejumlah literatur mengaitkan asal mula prank dengan sejarah perayaan April Mop. Banyak versi yang menjelaskan asal-usul April Mop ini. Salah satunya surat kabar National Post. Dalam versi tersebut, April Mop dikatakan lahir pada akhir abad ke-13, tepatnya pada 1392. Adalah sastrawan Inggris, Chaucer, yang menulis cerita tentang rubah nakal yang menipu orang dengan menambahkan tanggal ke-32 pada bulan Maret. Chaucer menulis kisah itu dalam bukunya yang terkenal, The Canterbury Tales. Akhirnya, banyak yang percaya bahwa apa yang ditulis Chaucer itu merupakan penyambutan tanggal 1 April. Namun sebagian yakin bahwa Chaucer hanya salah ketik.

Baca Juga: Satu Pagi dan Sore Hari di Jalanan Jabodetabek


Dalam versi lain, April Mop diyakini lahir pada abad ke-16. Tepatnya, ketika kalender Gregorian diperkenalkan. Saat itu masih banyak orang yang tidak menyadarinya karena masih mengikuti kalender Julian. Mereka tertipu oleh perubahan tanggal.

Sejumlah Prank Terkenal di Dunia

Terlepas dari perdebatan tentang kapan hari April Mop dimulai, perayaan tersebut telah menciptakan berbagai lelucon—yang kemudian dikenal dengan istilah prank. Berikut ini beberapa di antaranya:

– Lelucon tertua yang tercatat adalah di era Kekaisaran Romawi Elagabalus. Arkeolog Australia,  Warwick Ball, mencatat kisah Elagabalus yang memerintah pada 218-222 dalam makalahnya pada 2000, Rome in the East: The Transformation of an Empire. Warwick menceritakan sisi gelap Elagabalus sebagai seorang tiran berdarah dingin yang suka berpesta pora. Elagabalus diceritakan telah mencekik tamunya saat makan malam bersama. Namun, di sisi lain, Elagabalus juga memiliki sisi humor. Elagabalus menunjukkan hal itu ketika dia memperdaya tamunya. Konon, Elagabalus meletakkan bantal kulit di atas meja lesehan. Selama perjamuan, anak buah Elagabalus mengeluarkan udara dari bantal tersebut. Akibatnya, para tamu itu tersungkur ke lantai yang keras. Mungkin cerita ini juga mengilhami lelucon “menarik kursi yang akan diduduki seseorang”.

– Pada 1749, sebuah surat kabar di London mengiklankan “sebuah pertunjukan laki-laki yang tubuhnya bisa masuk ke sebuah botol anggur dan akan menyanyi dalam botol tersebut”. Iklan itu juga menuliskan akan ada pertunjukan lain, yakni “seseorang yang bisa berbicara dengan orang yang sudah mati”. Kabarnya, pesanan iklan tersebut merupakan taruhan antara Duke of Portland dan Earl of Chesterfield. Sang Duke bertaruh bahwa dia bisa mengiklankan sesuatu hal yang mustahil dan membuktikan masih banyak orang bodoh di London karena mempercayainya. Benar saja, tepat pada hari pertunjukan sesuai dengan iklan, kursi penonton terisi penuh. Akhirnya, setelah tahu bahwa semua itu prank, mereka pun mengamuk.

– Dalam siarannya pada 1957, BBC menampilkan gambar seorang pria memanen spageti dari pohon. BBC juga mengajari pemirsanya cara menanam pohon spageti. Tentu saja itu hanyalah ngibul. Selain pohon spageti, BBC mengklaim bahwa jam Big Ben di London, Inggris, akan berubah menjadi digital pada 1980. Tentu saja itu cuma prank!

– Pada 1 April 1962, SVT (Sveriges Television), satu-satunya stasiun televisi di Swedia saat itu, dalam salah satu programnya, menyatakan akan membocorkan rahasia teknologi yang mereka simpan. Program televisi tersebut mengajak masyarakat untuk menutupi layar televisi hitam-putih mereka dengan kain nilon. Langkah tersebut, menurut mereka, akan mengubah warna televisi menjadi berwarna. Lelucon itu berhasil menipu ribuan orang di Swedia secara massal.

(S. Maduprojo, sumber rujukan: VOI Indonesia, Etymonline.com, Hoaxes.org, dll.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *