11 July 2024

Foto: Freepik

Pernah tidak, secara tidak sadar kita kurang cermat dalam menempatkan sebuah kata dalam pembentukan sebuah frasa, yang dilihat selintas, tidak ada yang aneh dengan kalimat atau frasa tersebut?

Maksudnya gimana, sih?

Untuk lebih jelasnya, kita lihat contoh-contoh kalimat berikut:

  • Kepulauan Kei berada di wilayah timur Indonesia.
  • Penawaran saham perdana kepada publik (IPO) telah dilakukan perusahaan rintisan itu.
  • Kejadian itu menambah daftar panjang kecelakaan lalu lintas.

Sekilas, seperti tidak ada yang aneh dengan kalimat-kalimat tersebut. Tapi, bagi yang kritis, tentu ada yang janggal dengan penggunaan frasa dalam kalimat-kalimat itu. Kita mulai pembahasan dengan kalimat (1). Pemakaian frasa di timur Indonesia dan di Indonesia timur sering dipertukarkan. Begitu juga dengan barat Indonesia, tengah Indonesia, dll. Tapi sebenarnya keduanya tidak tepat bila dipertukarkan posisi katanya. Timur Indonesia, secara nalar, menerangkan “wilayah di sebelah timur Indonesia”. Berarti, Papua Nugini, dong? Jadi, makna di timur Indonesia memang rancu dengan “wilayah di sebelah timur Indonesia”. Sementara itu, pemakaian frasa Indonesia timur sudah tepat karena memang ada wilayah yang bernama Indonesia timur.

Lalu, kalimat (2). IPO alias initial public offering adalah sebutan bagi perusahaan privat yang akan menjual sebagian kepemilikan sahamnya kepada publik untuk pertama kalinya. Jadi, jelas bahwa perusahaan melakukan penawaran perdana sahamnya kepada publik, bukan saham pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Pemakaian frasa penawaran saham perdana akan rancu dengan adanya saham pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya tadi. Padahal yang dimaksudkan adalah tindakan penawaran pertama kali perusahaan untuk publik.

Lantas kalimat (3). Pemakaian frasa menambah daftar panjang dalam kalimat tersebut kurang tepat. Daftarnya tetap satu, sedangkan yang bertambah adalah panjangnya. Jadi, yang sesuai dengan nalar adalah “menambah panjang daftar”.

Baca Juga: Emang Enakan ‘Merubah’, Ya?


Ada yang berpendapat pemakaian frasa-frasa tersebut tidak menjadi masalah. Sebab, jika dikelompokkan, misalnya (wilayah timur) Indonesia; (penawaran saham) perdana; dan (menambah daftar) panjang kan bisa juga? Sama seperti pemakaian frasa “presiden RI kedua”, yang sebenarnya lebih tepat “presiden kedua RI”, kan bisa dikelompokkan (presiden RI) kedua? Bisa saja, tapi, menurut saya, tetap kurang tepat. Ya itu tadi, secara nalar, sudah dijelaskan. Kemudian, pemakaian kata seharusnya lebih sederhana, tepat sasaran, dan efektif. Hukum “diterangkan-menerangkan” tetap harus diperhatikan dalam pemilihan susunan kata dalam sebuah frasa. Bagian mana dulu yang mesti diterangkan, lalu diikuti kata yang lainnya.

Mudah-mudahan penjelasan singkat di atas bisa memberi sedikit pencerahan, ya… Eh, memberi sedikit pencerahan atau memberi pencerahan sedikit? Au, ahhh….

(S. Maduprojo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *