11 July 2024

Bagaimana dengan tulisan di gambar ini, tepatkah? (Foto: San Diego Hills)

Alkisah, hari itu seperti biasa Mas Fulan mengerjakan tugasnya di sebuah perusahaan penerbitan di bilangan Jakarta Barat. Sedang asyik mengedit naskah di meja kerjanya, tiba-tiba datang seorang rekan kerjanya di bagian redaksi.  

“Mas, Fulan!” begitu Mas Bejo, kawan redaksi Fulan itu, berujar dengan nada cukup tinggi. “Kok, beberapa kata dalam tulisan saya kemarin-kemarin diubah semua sih. Saya nulis ‘pemukiman’ diganti ‘permukiman’. ‘Pemakaman’ diganti ‘permakaman’. Coba saya minta penjelasan yang sejelas-jelasnya dengan alasan yang sangat-sangat kuat. Jangan dipikir saya enggak mikir memilih kata-kata itu. Jadi, capek saya kalau saya nulis diganti-ganti terus!”

Waduh, perkara sulit ini! Begitu batin Mas Fulan. “Oke, Mas Bejo, sabar dulu, ya. Kita selesaikan soal ini di meja perkopian, sembari ngisep rokok. Gimana, Mas Bejo duluan ke sana, saya tak nyiapin salinan naskah yang Mas Bejo tanyakan tadi. Siap?”

“Oke. Saya tunggu di sana, ya. Jangan pakai lama, saya ini sibuk!” ujar Mas Bejo.

Tak lama berselang, Fulan menyusul Mas Bejo di meja perkopian.

“Nah, ini Mas salinan naskah kemarin. Ini kalimat-kalimat asli dari Mas Bejo. (1) Di sana terdapat banyak pemukiman. (2) Pemakaman di desa itu ada tiga. Saya jelaskan satu-satu, ya. Pemukiman dalam kalimat (1) kurang tepat karena yang dimaksud adalah ‘tempat orang bermukim’. Dalam bahasa Indonesia, dikenal imbuhan ‘per-an’ yang salah satunya bermakna ‘menyatakan tempat’. Sedangan ‘pemakaman’, bentukan dari impuhan ‘pe-an’, bermakna menyatakan ‘proses memakamkan’. Jadi, seharusnya kalimat yang tepat untuk kalimat (1) adalah ‘Di sana terdapat banyak permukiman’ (tempat orang bermukim; bukan proses memukimkan). Yang kedua (2), kata ‘pemakaman’ pada kalimat ‘Pemakaman di desa itu ada tiga’ kurang tepat. Sama seperti kasus kalimat (1), kata ‘pemakaman’ terbentuk dari imbuhan ‘pe-an’ yang bermakna ‘proses memakamkan’. Padahal yang dimaksud dengan kalimat (1) adalah ‘tempat orang memakamkan’ di desa itu ada tiga, bukan ‘proses memakamkan’ di desa itu ada tiga. Kalau mau lebih tepat, kalimat (2) bisa dibuat begini: ‘Tempat pemakaman di desa itu ada tiga’. Nah, sampai di sini cukup jelas Mas Bejo?” tutur Fulan.

Sembari mengisap rokoknya dalam-dalam, Mas Bejo manggut-manggut. “Ooo….oke-oke, mulai mengerti. Lanjutkan.”

Wah, kuliah gratis neh, batin Fulan. “Iya, begitu kurang-lebih, Mas. Dalam bahasa Indonesia terdapat imbuhan ‘per-an’, ‘pe-an’, dan ‘ke-an’. Imbuhan per-an berfungsi membentuk kata benda yang diturunkan dari kata kerja berawalan ber-. Alomorf—anggota morfem yang sama, yang variasi bentuknya disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya (misalnya morfem ber- mempunyai alomorf ber-, be-, dan bel-)—dari imbuhan per-an misalnya  pel-an. Imbuhan per-an memiliki sejumlah makna, seperti 1. Menyatakan proses (contoh: perhitungan, perdebatan, pernikahan) 2. Menyatakan tempat (contoh: perhentian, permukiman, permakamam) 3. Menyatakan hal yang abstrak (contoh: pertunjukan, perdamaian) 4. Menyatakan hasil (contoh: persatuan, perluasan, perlebaran) 5. Menyatakan kumpulan (contoh: pertokoan).

Lalu imbuhan ‘pe-an’. Imbuhan ini berfungsi membentuk kata benda yang diturunkan dari kata kerja berawalan me-. Imbuhan ini beralomorf dengan pem-an, pen-an, peng-an, peny-an, dan penge-an. Makna imbuhan pe-an sering dipengaruhi atau ditentukan oleh kalimatnya. Beberapa maknanya adalah 1. Menyatakan proses (contoh: pembuatan, pembentukan, peleburan) 2. Menyatakan tempat (contoh: penggorengan, penggilingan, pengadilan) 3. Menyatakan hal (contoh: penderitaan, perasaan).

Selanjutnya ada imbuhan ‘ke-an’. Imbuhan ini berfungsi membentuk kata benda dan kata kerja pasif. Imbuhan ke-an tidak memiliki alomorf. Makna yang ditimbulkan oleh imbuhan ini antara lain: 1. Menyatakan terlalu (contoh: kependekan, ketinggian, kekecilan, kebesaran) 2. Menyatakan perbuatan yang tidak disengaja (contoh: kelewatan, ketiduran) 3. Menyatakan sifat (contoh: kemuliaan, keindahan, kepicikan) 4. Menyatakan agak atau menyerupai (contoh: kebarat-baratan, kemerah- merahan). Begitu, Mas. Sampai di sini paham, Mas?”

“Mas… Mas Bejo, la kok malah ngorok. Bujuk buneng, ini sungguh ‘pelecehan’!!!” (S. Maduprojo)

2 thoughts on “Pemukiman atau Permukiman, Sih?

  1. Terima kasih atas artikel ini. Saya selalu bingung kenapa tidak lagi menggunakan “pedesaan” tetapi “perdesaan.” Sekarang sudah jelas buat saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *