12 July 2024

Lawang Suryakancana/FOTO: Y. Martinus

Menelusuri Jalan Surya Kencana seperti menerjemahkan sebuah catatan pusat perniagaan yang sudah bergulir sejak 1800-an.

Bogor, 8 Februari 2024. Dua hari menjelang Imlek, sepertinya tidak ada perubahan yang mencolok di sepanjang area Pecinan ini. Lawang Suryakancana yang menjadi gerbang untuk memasuki area jalan ini juga masih seperti biasa; hanya terpajang sejumlah lampion. Baik gerbang maupun dua patung singa yang ada di kanan dan kiri lawang juga kami lihat tak ada bekas sapuan cat ataupun ornamen-ornamen anyar layaknya persiapan menyambut perayaan hari raya besar. Di Vihara Dhanagun (Hok Tek Bio), vihara tertua di Bogor yang lokasinya tak jauh dari Lawang Suryakancana, juga belum ada keramaian berarti.

Memasuki Jalan Surya Kencana pagi itu, yang agak berbeda adalah meningkatnya penjualan kue keranjang—salah satu penganan khas Imlek yang paling banyak diburu. Di berbagai sudut jalan dan toko, kue ini yang paling banyak dipajang. Kue keranjang ini dijual dengan kisaran harga Rp 20-50 ribu, tergantung merek dan ukuran. Seperti Kue Keranjang Sukabumi ukuran kecil yang kami beli, misalnya, dibanderol Rp 22 ribu.

Berbagai buah khas Imlek juga banyak yang ditawarkan, seperti jeruk mandarin dan delima. Jeruk mandarin dan delima merupakan buah khas Imlek yang paling populer, yang biasanya disajikan di atas meja altar atau di ruang tamu sebagai dekorasi. Buah ini juga dibagikan untuk tamu dan kerabat sebagai simbol keberuntungan dan ucapan selamat tahun baru. Selain itu, kami menemui bakcang dan kue khas Medan ci cong fan. Pagi itu kami memilih ketupat dan docang serta toge goreng untuk menu sarapan. Memang, aneka kuliner khas ini juga dijumpai pada hari-hari biasa. Tapi, menjelang Imlek seperti saat ini, penjualan dan stoknya meningkat.  

BACA JUGA: 7 Fakta Unik tentang ‘The Day of the Jackal’

Bercerita tentang Jalan Surya Kencana seperti bertutur tentang sebuah roda peradaban. Inilah potret sebuah pusat perniagaan tertua di Kota Bogor, yang detaknya masih bisa dirasakan hingga sekarang. Pada awalnya, Jalan Surya Kencana merupakan bagian dari ruas Jalan Raya Anyer-Panarukan. Jalan ini pada awalnya dibuat atas perintah Gubernur Jenderal Daendels pada sekitar tahun 1808, yang saat itu masih dikenal sebagai Post Weg atau Jalan Pos. Sekitar 1970, wilayah perniagaan ini disebut Surya Kencana, yang sebelumnya juga dikenal sebagai Handelstraat.

Tak hanya meninggalkan jejak, keriuhan salah satu aktivitas sosial-ekonomi antar-kelompok manusia ini—jual-beli di pasar, toko obat, toko kue, pakaian, kulineran, tempat ngopi, ngeteh, bercengkerama, dll—masih tergambar hingga sekarang. Antara pedagang pribumi dan pembeli keturunan Tionghoa. Antara pedagang keturunan Tionghoa dengan pegunjung atau pembeli warga sekitar. Dari pagi hingga bertemu dengan paginya lagi. Tak aneh bila jalan ini dijuluki Road of Never Sleeping.

Bangunan toko pakaian Mega Segar yang ada sejak 1942, minimarket Ngesti, toko perabot Jaya Makmur, kios jam Djakarta—menyebut beberapa—berdampingan dengan toko-toko atau kedai baru yang berjajar di sepanjang jalan ini. Kedai-kedai kopi vintage—memadukan gaya nongkrong kopi kekinian dengan memanfaatkan bangunan-bangunan lama—bertebaran. Sebut saja Fanaticoffee, Penalama, Tomoro Coffe, Daily Brew Coffee, Nusada Coffee, atau Uncle Joe. Seperti pagi itu, sekitar pukul 08.00-10.00 pagi, kami menyeruput kopi di Uncle Joe dan Penalama. Uncle Joe terletak di lorong gang dan Penalama di jalan besarnya. Sejak kedai dibuka, sudah banyak pengunjung yang datang dan pergi menikmati seduhan kopi di tempat ini. Kedua kedai ini menawarkan sensasi ngupi di lokasi rumah/bangunan jadul. Segelas kopi dengan beragam aroma rata-rata dibanderol Rp 18-50-an ribu. Tersedia juga camilan, seperti pisang, kentang, ataupun cireng goreng. Roti legendaris Tan Ek Tjoan awalnya juga dimulai dari Surya Kencana, yakni pada 1921, sebelum pindah ke kawasan Jalan Siliwangi.

Tak hanya kedai/kafe yang menawarkan kopi seduh, di sini juga ada salah satu kopi giling legendaris yang ada di Kota Hujan ini. Namanya Kopi Tjap Teko. Kami pun mampir untuk membeli kopi dan mengobrol sejenak di Toko Agus yang meracik dan menjual merek Kopi Tjap Teko. Lokasinya di Jalan/Gang Pedati Nomor 27 RT 5/6, Surya Kencana, Ini merupakan salah satu merek kopi legendaris dan konon yang pertama kali di Bogor. Merek kopi ini telah ada sejak 1950. Produk Kopi Tjap Teko masih eksis hingga sekarang bersama dengan tiga merek kopi legendaris lainnya di Bogor, seperti Kopi Bah Sipit Cap Kacamata (sejak 1925), Kopi Liong Bulan (sejak 1945), dan Kopi Cap Oplet (sejak 1975).

Ada dua aroma kopi yang disediakan Toko Agus, yakni jenis robusta asal Gayo dan Sumatera Selatan blending antara robusta dan arabika. “Ada dua pilihan juga, standar dan premium. Untuk standar, kami pakai grade kopi 2 dan 3. Sedangkan premium grade 1 dan 2,” ucap penjaga toko yang kami temui. Kopi Tjap Teko dijual dengan berbagai ukuran kemasan, dari 9 gram, 80 gram, 0,25 kilogram, hingga 1 kilogram. Harganya tentu variatif. Kami memilih sebungkus kopi premium yang dibanderol Rp 80 ribu dan ukuran kecil seharga Rp 7.000.

Bagi kami, Jalan Surya Kencana bisa jadi tak hanya Road of Never Sleeping, tapi juga Road of Never Ending,

(Tim CK)




 

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *