Salah satu versi "The Scream", sumber: Munchmuseet.no

Dalam film Home Alone garapan John Hughes, ingatkah kalian adegan seringai kocak Macaulay Culkin yang ikonis ketika ia terkaget atas apa yang menimpanya?

Atau ingatkah topeng teror menakutkan yang dipakai tokoh utama dalam film Scream yang entah sudah dibuat dalam berapa versi itu?

Nah, kali ini kita akan coba mengulik salah satu karya lukis paling terkenal dan termahal di dunia yang salah satunya menjadi sumber inspirasi adegan Culkin di Home Alone dan topeng di film Scream itu.

Ya, mimik tokoh sentral dalam lukisan The Scream ini telah menjadi representasi populer dari kondisi manusia yang dipenuhi rasa ketakutan, kecemasan, teror, ataupun kegelisahan yang teramat sangat. Tokoh sentral lukisan itu muncul dalam budaya populer Barat, dari siaran televisi, emoji, meme, iklan, hingga film dan parodi.

Dalam versi bahasa Inggris, lukisan ini dikenal dengan “The Scream”. Aslinya, dalam bahasa Norwegia, lukisan ini diberi judul Skrik, yang kurang-lebih berarti “jeritan”.Ini merupakan lukisan paling terkenal seniman Norwegia, Edvard Munch. Ada sejumlah versi tentang lukisan ini. Ada yang menyebutkan Munch membuat empat versi, bahkan delapan versi, dengan berbagai media. Sejumlah literatur menuliskan Munch menyelesaikan dua versi The Scream pada 1892 dan 1893 dengan bahan pastel, crayon, dan cat minyak dengan teknik tempera di atas karton; satu lagi pada 1895 dalam bentuk litograf; dan satu lagi pada 1910 dengan bahan pastel pada karton. Sumber lainnya menuliskan Munch membuat sejumlah versi pada 1892, 1893, 1894, 1895, dan 1910. Bahkan versi asli The Scream bukanlah sosok yang dikenal ikonik sekarang, melainkan wajah orang dewasa biasa yang bertopi dan berjas dan satu lagi memakai busana hitam. Lukisan-lukisan karya Munch itu kini, antara lain, tersimpan di Museum Munch dan National Gallery di Oslo.

Nah, pada Rabu malam, 3 Mei 2012, lukisan pastel The Scream versi 1895 memecahkan rekor lukisan termahal di dunia saat itu dengan terjual di bawah US$ 120 juta—US$ 119,9 juta atau sekitar Rp 1 triliun lebih untuk kurs saat itu—di rumah lelang Sotheby’s di New York, Amerika Serikat. The Scream pun masuk 10 lukisan masterpiece paling terkenal di dunia selain Mona Lisa dan The Last Supper karya Leonardo da Vinci, The Starry Night karya Vincent van Gogh, Guernica karya Pablo Picasso, The Kiss karya Gustav Klimt, Girl With a Pearl Earring karya Johannes Vermeer, The Birth of Venus karya Sandro Botticelli, Las Meninas karya Diego Velázquez, serta Creation of Adam karya Michelangelo.


Pelopor Gerakan Ekspresionisme dan Eksistensialisme

The Scream adalah salah satu gambar paling familier dalam seni modern dan disebut-sebut menjadi pelopor gerakan ekspresionisme dan eksistensialisme. Menurut Munch, ide lukisan itu muncul saat ia sedang berjalan-jalan sore hari di Ljabrochaussen Road—kini Mosseveien Road—di kota pesisir Christiania (sekarang Oslo). “Saya sedang berjalan dengan dua orang teman. Matahari terbenam. Tiba-tiba awan berubah menjadi merah darah. Ada lidah api di langit. Saya berhenti, lelah, dan bersandar di pagar. Dua teman saya terus berjalan, tapi saya berdiri di sana gemetar ketakutan. Saya merasakan jeritan tak terbatas melewati alam dan merasa seolah-olah benar-benar bisa mendengarkan jeritan itu,” tutur Munch tentang proses pembuatan The Scream. Dalam salinan salah satu lukisan itu, Munch menuliskan, “Hanya bisa dilukis oleh orang gila.”

Tentu saja tidak banyak yang tahu apa yang sebenarnya terjadi saat The Scream dibuat. Hanya Munch, dua temannya itu—kalau ini benar—dan Tuhan yang tahu. Beberapa literatur menuliskan bahwa The Scream merupakan halusinasi Munch ketika ia merasa bisa mendengar “teriakan di semesta alam”, menggambarkan makhluk yang sedang dilanda kepanikan. Dalam lukisan ini, kecemasan dinaikkan ke tingkat kosmis, yang pada akhirnya terkait dengan perenungan tentang kematian dan kekosongan makna yang menjadi pusat eksistensialisme. Apa yang mendasari rasa kepanikan dan kecemasan teramat sangat yang bisa “didengar” Munch itu?

Baca Juga: Melaut Benciku…


Antara Mumi, Bipolar, dan Letusan Krakatau

Situs web New York Times menyebutkan bahwa periode waktu saat Munch sedang berjalan-jalan sore dan menikmati matahari terbenam di Ljabrochaussen Road, Christinia, itu terjadi antara akhir 1883 atau awal 1884. Nah, banyak yang meyakini bahwa apa yang dilihat Munch itu adalah efek dari langit merah gegara letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Seperti diketahui, Krakatau meletus pada 1883. Letusan besar terakhir terdengar hingga 3.000 mil, membuat setidaknya 36.417 orang meninggal—ada yang menyebut hingga 100 ribu jiwa—20 juta ton sulfur meluncur ke atmosfer, dan menyebabkan musim dingin vulkanik (mengurangi suhu di seluruh dunia dengan rata-rata 1,2 derajat Celsius selama lima tahun). Debris atau sisa letusan berupa debu dan gas menyebabkan cahaya matahari terdispersi. Penampakan langit berubah menjadi oranye hingga merah darah yang begitu menakutkan, terlihat hingga di langit Eropa dan Amerika. Nah, warna langit merah-darah itulah yang disebut menjadi inspirasi The Scream. Sejauh ini memang belum ada literatur yang membuktikan pernyataan langsung Munch tentang kaitan The Scream dengan letusan Krakatau. Tapi, mungkin, mengingat pengerjaan The Scream yang mulai dibuat pada 1892/1893, banyak pula yang menyangsikan argumen tersebut. Sejumlah ahli, misalnya, justru menduga sumber inspirasi Munch adalah sebuah mumi asal Peru yang dilihat Munch di Paris pada 1889 dalam perhelatan Exposition Universelle. Ada juga dugaan Munch terinspirasi oleh saudara perempuannya, Laura Catherine, yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di dekat Ekeberg—tak jauh dari tempat Munch berjalan-jalan sore di Christinia—lantaran menderita manic depressive, gangguan bipolar atau mania depresif yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, tingkat aktivitas, konsentrasi, serta kemampuan untuk berkegiatan sehari-hari.

Sekilas tentang Munch

Edvard Munch lahir di Loten, Norwegia, pada 12 Desember 1863. Munch meninggal pada 23 Januari 1944 di Ekely, dekat Oslo. Karya lukisnya yang terkenal, yakni The Scream dan The Cry (1893) menjadi salah satu simbol penderitaan spiritual modern.

Munch lahir dalam keluarga kelas menengah yang dirundung masalah kesehatan yang buruk. Ibunya meninggal saat Munch berusia 5 tahun dan kakak perempuan tertuanya meninggal saat Munch berusia 14 tahun; keduanya menderita tuberkulosis. Munch menggambarkan peristiwa itu dalam mahakarya pertamanya, The Sick Child (1885–1886). Ayah dan saudara laki-laki Munch juga meninggal ketika dia masih muda, dan saudara perempuan lainnya mengalami penyakit mental—Laura Catherine yang menderita bipolar. “Penyakit, kegilaan, dan kematian adalah malaikat hitam yang menjaga buaianku dan menemaniku sepanjang hidupku,” begitu Munch pernah berujar.

Mengingat pengalaman kehidupan kelamnya itu, wajar bila inti dari pencapaian Munch adalah rangkaian lukisannya tentang cinta dan kematian. Hal itu dibuktikan dengan enam lukisan yang dipamerkan pada 1893, dan rangkaian karya tersebut telah berkembang menjadi 22 lukisan pada saat pertama kali dipamerkan dengan judul Frieze of Life di Berlin Secession pada 1902. Munch terus-menerus menata ulang lukisan-lukisan ini. Jika ada yang terjual, dia akan membuat versi lain lukisan itu. Jadi, dalam banyak kasus, ada beberapa versi lukisan dan cetakan berdasarkan gambar yang sama. Karena itulah The Scream, misalnya, ada dalam beberapa versi.

Meskipun Frieze menggambarkan pengalaman pribadi, temanya bersifat universal: ini bukan tentang pria atau wanita tertentu, melainkan tentang pria dan wanita secara umum, dan tentang pengalaman manusia akan kekuatan unsur alam yang besar. Dilihat secara berurutan, sebuah narasi implisit muncul tentang kebangkitan, cinta yang mekar, lalu layu, diikuti oleh keputusasaan dan kematian.

(S. Maduprojo. Sumber rujukan tulisan: Britannica.com, CNN.com, Timeout.com, Munchmuseet.no, dan berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *