13 June 2024

Ilustrasi: Pixabay.com

Akhir-akhir ini, dalam sejumlah artikel politik di media massa daring ataupun luring, kerap kita temui istilah ”efek ekor jas”.

Misalnya, seperti kalimat yang saya kutip dari laman Koran.tempo.co berikut ini: “Partai Gerindra saat ini telah memiliki efek ekor jas atau coattail effect dari pernyataan Prabowo Subianto”. Lalu, “Di tengah ingar-bingar kampanye pemilihan presiden, tak semua partai menikmati ’efek ekor jas’.”

Lantas, apa sebenarnya efek ekor jas itu? Apa kaitannya dengan jas dan ”ekornya”? 

Istilah “efek ekor jas/mantel/jaket” merupakan bentuk serapan—terjemahan—dari frasa coattail effect dalam bahasa Inggris. Dalam laman Dictionary.com, coattail effect didefinisikan sebagai “kecenderungan seorang pemimpin partai politik populer untuk menarik suara calon lain dari partai yang sama dalam suatu pemilihan. Misalnya, partai calon presiden yang menang akan sering memenangi banyak kursi di parlemen; anggota parlemen ini dipilih untuk menduduki jabatan ’di atas mantel/jas’ presiden”. Masih mumet, ya? Coba kita cari penjelasan lainnya.

Mengutip sebuah artikel di Kompas.id, tergambar apa yang dimaksud dengan istilah ini. “Pemilu legislatif 2024 kembali dilaksanakan secara serentak dengan pemilu presiden. Bila pemilu legislatif dan pemilu presiden dilaksanakan serentak atau berdekatan waktunya, terdapat efek ekor jas/EEJ atau coattail effect. Artinya, perolehan suara parpol, antara lain, dipengaruhi oleh siapa calon presiden yang diajukan atau didukungnya.” Lebih lanjut, “…ada korelasi atau hubungan yang signifikan antara dukungan terhadap pasangan capres/cawapres dengan suara partai-partai pengusung/pendukung… figur capres mempengaruhi suara partai. Pengaruh (itu) bisa bersifat positif, bisa juga negatif…”

Menurut Wikipedia, efek ekor jas atau pengaruh ekor jas merupakan istilah umum yang merujuk pada hasil yang diraih oleh suatu pihak dengan cara melibatkan tokoh penting atau tersohor, baik langsung maupun tidak langsung, melalui suatu perhelatan. Dalam psikologi politik, efek ekor jas dapat dimaknai sebagai pengaruh figur atau tokoh dalam meningkatkan suara partai dalam pemilu. Figur atau tokoh tersebut bisa berasal dari calon presiden ataupun calon wakil presiden yang diusung. Sederhananya, partai politik akan mendapatkan limpahan suara dalam pemilihan umum anggota legislatif bila mencalonkan tokoh atau figur yang populer serta memiliki elektabilitas yang tinggi. Pemilihan presiden Republik Indonesia 2014 dan 2019, contohnya. Contoh lain adalah keterpilihan Presiden AS Dwight Eisenhower, Ronald Reagan, dan Bill Clinton, baik pengaruh positif maupun negatif.

Baca Juga: Prank!


Eisenhower merupakan tokoh populer setelah perannya dalam Perang Dunia II. Popularitas itu dan keengganannya terhadap kekuatan politik berkontribusi terhadap kemenangannya pada 1952 serta kendali Partai Republik di parlemen. Lalu, daya tarik Reagan kepada Partai Demokrat konservatif dan Republik membantunya memenangi kursi kepresidenan pada 1980. Sedangkan kemenangan dan perjuangan Clinton cenderung membebani kandidat anggota Kongres Partai Demokrat, apalagi Clinton tersangkut skandal seks dengan staf Gedung Putih, Monica Lewinski.

Wikipedia menambahkan, dalam ranah industri hiburan (terutama perfilman), ekor jas dijalankan melalui hadirnya kameo (cameo), tokoh yang lebih dulu tersohor, dengan tujuan mendongkrak peminat atau penonton. Begitu pula dalam industri periklanan, kameo sangat diperlukan dengan harapan dapat menarik minat calon konsumen sebanyak-banyaknya. Contoh, iklan produk alat kebugaran yang bintangnya seorang binaragawan.

Nah, di sini mulai paham kan, apa itu efek ekor jas? Kalau dalam bahasa awam, sebenarnya artinya condong ke “pemancing”, ya? Lantas, kapan sebenarnya istilah ini muncul dan digunakan?

Diduga Berasal dari Ucapan Lincoln

Situs web Politicaldictionary.com membuat tulisan yang menarik mengenai istilah ini. Efek ekor jas merupakan fenomena yang di dalamnya popularitas kandidat politik atau pemimpin mengarah pada peningkatan total suara untuk calon rekan partai. Adapun coattail mengacu pada bagian mantel/jas yang memanjang di bawah pinggang, yang memberikan perlindungan ekstra, atau lipatan bawah di bagian belakang mantel/jas pria. Menurut Politicaldictionary, efek ekor jas atau frasa “mendompleng ekor jas seseorang” merupakan istilah yang relatif baru dalam leksikon politik. Namun asal-usul konsep tersebut tidak jelas meskipun, pada 1848, Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pernah menyinggung soal “coattails” Jenderal Zachary Taylor—pemimpin militer AS dan Presiden ke-12 AS, dengan masa jabatan satu tahun dari 1849 hingga kematiannya pada 1850. Dalam pidato tersebut, Lincoln menyoroti kemunafikan Partai Demokrat dalam kritik mereka terhadap Partai Whig—partai politik yang aktif pada awal abad ke-19 di AS—yang bersembunyi di bawah “mantel militer” calon presiden Zachary Taylor. Di sinilah, mungkin, rujukan bermula soal jas dan “ekornya” tersebut.

The Google Books Ngram Viewer—mesin telusur online untuk Google Books—mencatat, dalam pencarian semua buku dari tahun 1800 hingga 2008, tidak ada penyebutan frasa coattail effect sampai tahun 1947. Namun ada lonjakan penggunaan istilah tersebut pada 1957, yang mencapai puncaknya pada 1996.

Sementara itu, literatur lainnya, Grammarist.com, menyebutkan bahwa idiom “to ride on someone’s coattails” atau menunggangi ekor jas seseorang berarti “menjadi sukses dengan menempelkan diri Anda pada kesuksesan orang lain”. Seseorang yang mengendarai ekor jas seseorang biasanya dianggap tidak dapat mencapai kesuksesan sendiri. Seperti memegang bagian belakang jas seseorang untuk ditarik tanpa mengerahkan upaya apa pun. Idiom ini diduga pertama kali muncul sekitar tahun 1600 dan berkembang pada 1900-an di AS.

(S. Maduprojo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *