13 June 2024

Ilustrasi: S. Maduprojo

Di sela-sela berita seputar debat calon presiden dan wakil presiden akhir-akhir ini, muncul kata “sawala” dalam sejumlah pemberitaan di berita online ataupun cetak untuk menggantikan kata debat.

Kata ini juga kadang-kadang dikutip di percakapan media sosial, seperti X dan Facebook. Saya yakin banyak yang berkernyit seraya menggumam apa itu sawala, sebelum ngeh bahwa istilah ini untuk menggantikan kata debat tersebut. Bagi yang penasaran, dengan cepat tentu akan mengklik “Mbah Google” dan mendapati arti kata ini.

Dari Bahasa Sunda, Jawa Kuno, dan Bahasa Melayu

Di sejumlah artikel, dalam mesin pencarian itu, istilah sawala disebut berasal dari bahasa Kawi atau Jawa Kuno, yang artinya berdiskusi atau berembuk. Tapi, benarkah? Saya coba telusuri sejumlah buku/kamus Jawa Kuno atau yang berkaitan dengan kumpulan kosa kata dalam bahasa Jawa Kuno.

– Buku Kawi-Indonesia karya Soewojo Wojowasito—salah seorang tokoh dalam bidang pengajaran bahasa dan kebahasaan serta perkamusan di Indonesia—yang diterbitkan pada 1977, tidak terdapat kata “sawala”. Yang ada adalah “sewala” dan “saiwala”, yang berarti tumbuh-tumbuhan air (vallisnaria) dalam bahasa Sanskerta.

– Dalam Bausastra: Jarwa Kawi karya Padmasusastra yang disusun pada 1903, terdapat kata sawala yang salah satunya berarti wikalpa atau berselang-seling.

– Dalam Bausastra Kawi-Jawa yang disusun Ki Demang Sokowaten terdapat kata suwal yang berarti “tampik, tangkis”. Kata suwal ini agak mendekati rumpun kata sawala yang bermakna “berdebat” atau “berdiskusi”.

– Dalam Kamus Sansekerta Indonesia karya Purwadi dan Eko Priyo Purnomo yang disusun pada 2008, terdapat kata “sawala” yang berarti “menolak, menyanggah”. Ini juga mendekati arti “berdebat” untuk sawala.

– Dalam Old Javanese Kawi—Drevnejavanskii Jazyk (Kawi) karya A.S. Teselkin (Moskwa, 1963) yang diterjemahkan oleh John Minor Echols pada 1971 tidak terdapat lema sawala atau yang mendekati kata ini.

– Dalam buku Old Javanese-English Dictionary karya P.J. Zoetmulder dan S.O. Robson bagian II p-y—kamus ini ditulis dalam dua bagian—terdapat lema sewala I (Skt śaiwala) yang bermakna Blyxa octandra, sejenis tanaman sejenis rumput bebek atau lumut hijau yang tumbuh di kolam dan sering disinggung dalam puisi; serta sewala II ( = sawala III, sawalan, siwalan) yang berarti “daun lontar, surat”. Sementara itu, dalam keterangan etimologi lema sawala dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sawala disebut berasal dari bahasa Jawa Kuno dengan mengacu kamus karya Zoetmulder ini, yang artinya “pertengkaran”.

BACA JUGA: DEBAT

Nah, kata sawala yang jelas-jelas bermakna berdebat/berdiskusi dengan saling mengemukakan pendapatnya ada dalam sejumlah kamus bahasa Sunda-Indonesia. Salah satunya dalam Kamus Sunda –Indonesia terbitan 1985 oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam kamus karya Maman Sumantri, Atjep Djamaludin, Aclunad Patoni R.H., Moch. Koerdie, M.O. Koesman, dan Epa Sjafei Adisastra ini terdapat lema sawaIa yang berarti “debat, perbincangan dengan mengemukakan pendapat masing-masing”.

Yang menarik, menengok kamus bahasa Melayu (Kamus Dewan edisi IV) yang disusun Pusat Rujukan Persuratan Melayu Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, kata sawala jelas-jelas disebut, yang berarti “perbahasan, perdebatan, pertengkaran; bersawala berbahas, berdebat, bertengkar”. 

Lantas, adakah kosa kata dalam bahasa Jawa Kuno yang bermakna debat? Berdasarkan Kamus Indonesia-Jawa Kuno karya L. Mardiwarsito, Sri Sukesi Adiwimarta, dan Sri Timur Surabnan yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1992, terdapat kata wakyawadhaka yang artinya “berdebat” dan wada/wiwada untuk “perdebatan”. Mau coba pakai kata-kata itu untuk variasi kata debat? Silakan…

(S. Maduprojo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *