Letupan amarah Kid Rock untuk Bud Light (Sumber foto: consequence.net)

Bagian Pertama Trilogi Saga Bud Light
Inilah kisah tragis Bud Light, sebuah brand bir nomor satu di Amerika. Inilah kemurkaan, ketika kemesraan dengan pelanggan berakhir pengkhianatan.

Hari itu tampak cerah. Dalam sebuah video di akun twitternya, di pinggir sebuah sungai yang airnya mengalir tenang, Kid Rock, penyanyi Amerika, berbicara ke kamera.

“Kakek (demikian ia menyebut dirinya-Red.) sedang senang hari ini. Saya katakan padamu semua sejelas dan sesingkat mungkin.”

Ia lalu berbalik mengambil pistol semi otomatis MP5 laras panjang. Ia mengokangnya lalu mengarahkannya ke tumpukan 5 buah paket bir Bud Light berwarna biru yang ia letakkan di sebuah meja. Tanpa tedeng aling-aling, ia muntahkan banyak peluru. Tak ayal, sasarannya pun hancur berantakan. Kid Rock menghadap kamera lagi dan menyumpahi Bud Light serta Anheuser-Busch (perusahaan pembuatnya) dengan ucapan tidak senonoh gaya Amerika. Lalu ia menghilang dari kamera.   

Di video lain, seorang pria melakukan eksperimen di sebuah konser musik. Ia meletakkan sebuah cool-box berisi penuh dengan kaleng-kaleng bir plus es batunya. Ada tiga merek bir yang ia masukkan di sana. Salah satunya adalah Bud Light. “Siapa saja boleh mengambilnya. Gratis.” Ia mulai memvideokan pukul. 6:45 sore. Pukul 10:15 malam ia lihat lagi isi cool-box. Tersisa puluhan kaleng bir. Dan semuanya Bud Light. Tidak berkurang satu pun. Merek selain Bud Light telah habis diambil para penonton konser. Tidak ada yang mau mengambil Bud Light.

Di stadion Fenway Park, kandang dari Boston Red Sox, terlihat stand penjualan Bud Light sepi. Tak ada pembeli satu pun. Para penjaganya ada yang mondar-mandir, ada yang main hp. Di dalam lemari pendingin tampak jejeran kaleng Bud Light masih penuh, rapi tersusun. Suasana ini direkam oleh seorang penonton yang sedang berjalan kembali ke tempat duduknya saat jeda karena pertandingan akan kembali dimulai. Ia bilang, ”Teman-teman, ini sesuatu yang menggelikan dan aneh banget. Lihat itu (kosong, tak ada pembeli). Itu stand Bud Light, di Fenway Park, Boston, waktu Red Sox sedang bertanding. (Mengumpat tidak jelas)… Saya kira (tim) marketingnya punya banyak pertanyaan untuk dijawab (karena tidak ada penjualan?).”

Awal Mula Petaka Bud Light

Di akun Instagramnya, Dylan Mulvaney membawa 5 kaleng bir Bud Light sekaligus ke sebuah meja, tepat di depan kamera. Ia mengambil satu kaleng, membukanya dan meminumnya sambil berbicara tentang March Madness. March Madness adalah saat terjadi pertandingan NCAA – kompetisi bola basket antar college seluruh Amerika. Waktunya antara pertengahan Maret sampai awal April. College adalah sekolah tinggi atau institut kejuruan. Lulusannya bergelar Associate–2 tahun kuliah– atau Bachelor–4 tahun kuliah. Beda dengan universitas yang gelar lulusannya Master atau Ph.D.

Dylan sendiri mengaku hanya sedikit tahu bahwa March Madness itu berhubungan dengan olah raga, tapi tidak pasti olah raga apa. Ia yakin saat itu adalah waktu yang tepat untuk melakukan perayaan. Ia sangat senang karena produsen Bud Light mengiriminya beberapa kaleng bir Bud Light dan ada sebuah kaleng dengan wajahnya tercetak di kaleng tersebut. Dengan Bud Light, ia kemudian merayakan hari ke 365-nya sebagai wanita.

HARI ke 365 sebagai WANITA? 

Yup! Dylan Mulvaney adalah seorang transgender. Ia melakukan operasi wajah agar tampak “lebih wanita” (facial feminization surgery), berpakaian dan berdandan seperti wanita lalu mengaku sebagai wanita. Selebihnya, ia masih laki-laki asli. Ini yang membuat para peminum Bud Light, terutama yang fanatik, marah besar. Kenapa? Karena Dylan adalah simbol dari kaum LGBTQ. Dia adalah seorang influencer kaum “pelangi” yang sukses. Ia menjadi ambassador merek-merek terkenal yang ikut mengadopsi program-program LGBTQ. Pada bulan Oktober 2022, ia melakukan wawancara dengan Presiden Joe Biden tentang hak-hak kaum transgender.

Baca juga: Reaksi Direksi dan Opini Akademisi

Bagi orang Amerika yang menentang LGBTQ, hal ini jelas sangat menjengkelkan karena Bud Light ternyata mendukung LGBTQ. Jangan tanya reaksi dari peminum Bud Light dari kalangan konservatif (Republik). Mereka merasa dikhianati. Bagi mereka, ideologi kaum LGBTQ yang dibawa Dylan dan kaum liberal (Demokrat) sangat bertentangan dengan keyakinan mereka (yang kebanyakan masih sangat religius) dan bisa membahayakan kehidupan masyarakat Amerika.

Maka, bagaikan digerakkan oleh satu komando skala besar, ributlah sosial media Amerika. Di Twitter, Instagram, Youtube, celotehan soal Bud Light dan Anheuser-Busch terus bermunculan. Mereka benar-benar meledak-ledak. Dari mulai sekadar pemberitaan, penyesalan, kekesalan, umpatan-umpatan, dan ejekan. Dari yang berbentuk tulisan, meme hingga video (seperti yang telah diulas di atas) ramai-ramai mencampakkan Bud Light. Pokoknya mereka ogah minum Bud Light lagi.

Boikot Bud Light

Bir adalah minuman kesukaan warga dewasa Amerika. Di antara minuman beralkohol lainnya (wine dan liquor), bir menjadi yang paling banyak diminum. Menurut Gallup.com, perbandingannya 39% bir, 31 % wine dan 27% liquor. Di acara besar seperti konser musik, pertandingan olah raga, perayaan tahun baru, hari kemerdekaan bahkan perayaan paskah dan natal pasti ada bir. Hampir di tiap lemari es di tiap rumah selalu memiliki persediaan bir. Setidaknya 2-3 kaleng, diminum sambil nonton TV atau nongkrong di halaman. Bar dan restoran yang tidak ada birnya justru dianggap aneh!

Bud Light menyandang titel bir nomer satu, paling disukai di Amerika. Jadi bisa dipastikan sebagian besar orang Amerika minum Bud Light. Ini dia gambarannya. Bila setengah saja dari warga peminum Bud Light merasa dikhianati kemudian tidak mau lagi membeli, tentu karir Bud Light sebagai si nomer satu akan terancam.

Hingga akhir Mei 2023, penjualan Bud Light masih terus anjlok. Amerika terus berteriak “Boikot Bud Light! Cukup sampai di sini saja”.

(Sasongko Akhe, Kontributor Catatankaki.net)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *