Orang-orang seperti tanah yang terbelah. Kering dan asing. Hujan menjelma kutukan, melumatkan persawahan dan para penggarapnya, menggusur bebukitan dan isinya, menggerus pantai, menghempaskan gedung-gedung, lalu mencampakkannya.

Kita sibuk saling memaki. Sebagian menyerah lalu menyalahkan algoritma. Dan kita adalah robotnya. Dan kita adalah budaknya. Huruf-huruf bertebaran bagai panah yang menghunjam. Atau mengendap senyap seperti racun yang meriap.

Para ulama, para pendeta, rahib dan biku, entah di mana.

Menusia menjelma sekumpulan adrenalin, yang dipupuki keberanian hanya untuk hidup, bertempur atau lari. Lalu semesta semakin tua. Di dalamnya tumbuh taman yang rapuh. Batang dan daunnya berpilin-pilin, tersusun dari huruf-huruf kebencian; dari setiap jari yang kita ketikkan.

Pernahkah kamu jatuh pada rindu yang menggebu?

Tanah panas dan kering, mengepul dijatuhi butiran hujan, menguarkan aroma khusus yang kekal. Orang-orang berlarian. Sebagian di antaranya menerima sambil menengadah. Anak-anak hanyut dalam keriangan; sesekali terdengar mereka merengek terkadang meraung-raung karena minta untuk main basah-basahan. Pasangan muda, menjadikannya orkestra alam yang membuatnya kian tenggelam dalam percumbuan.

Lalu dengarlah suara adzan, nyanyian gereja, pepujian magis dari kuil dan wihara. Ia menjelma satuan notasi yang mampu menyihir sistem listrik di saraf otak kita pada frekuensi harmoni. Zat endorphine tumbuh menebarkan rasa bahagia. Yang sakit jadi sembuh, yang sehat kian kuat, yang kuat menyemai lalu memetik cinta berlipat-lipat. Dan kita saling bergenggam tangan menabuhkan bebunyian yang menggetarkan.

Para ulama, para pendeta, rahib dan biku, melembutkan suaranya.

(Asep Herna, November 2021)

2 thoughts on “Pernahkah Kamu Jatuh pada Rindu yang Terbunuh?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *