13 June 2024

Ilustrasi (Foto: istimewa)

Adalah Mas Bejo, manusia di salah satu ujung muka bumi yang tiba-tiba mempertanyakan arti bahagia. Bukan saja karena sedang diimpit segudang persoalan, melainkan lagi iseng juga mencari definisi bahagia, yang sekarang seperti susah dicari. Entah pergi ke mana bahagia itu saat ini.

Kata Mas Bejo, coba tanyakan kepada warga Ukraina sekarang, di mana bahagia itu, ketika kota-kota di sana porak-poranda oleh hantaman roket tentara Rusia. Perang ini bahkan berisiko memunculkan Perang Dunia Ketiga. Coba tanyakan kepada warga etnis Rohingya arti bahagia itu, ketika mereka dihantui teror dan ancaman kematian oleh “negara” mereka sendiri, Myanmar, hingga tak tahu harus melarikan diri entah ke mana.

Coba tanyakan bahagia kepada manusia perahu, ketika mereka seperti tidak diterima oleh daratan di mana pun. Kata bahagia juga sudah lama sekali hilang dari bumi Palestina, ketika tanah yang mereka tinggali semakin sempit diimpit kolonialisme masa kini bangsa Israel. Bahagia juga sudah lama menghilang di Suriah, Taiwan, Afganistan, Yaman, Irak, Libya, Mali, Xinjiang, ataupun sebagian wilayah di Papua.

Masyarakat Korea Utara sudah lama kehilangan bahagia mereka. Kalaupun mereka tertawa, itu pasti dipaksa (Kim Jong-un). Yang terbaru di India, bahagia tiba-tiba terenggut oleh konflik antar-umat Hindu dan pemeluk Islam di sana. Atau di Sri Lanka, ketika negeri itu terancam bangkrut dan lumpuh gegara gagal membayar utang dan cadangan bahan bakar minyak (BBM) yang dimiliki terus menyusut. Begitu juga Argentina, Zimbabwe, dan Ekuador.

Wabah corona yang awalnya muncul di Wuhan, Cina, pada akhir 2019, menambah hitam wajah dunia, hingga saat ini.

Dan, tak usah jauh-jauh, coba tanyakan bahagia kepada sebagian besar tetangga kita, ibu-ibu di warung sayur, atau bapak-bapak yang sedang main catur, ”Hidup makin sulit, seperti beli Pertalite, atau berobat di rumah sakit, harus ngirit, naik sepeda motor enggak boleh pakai sandal jepit, prit…prit…” Begitu mereka menyanyikan kur kesedihan.  

Bahagia Itu Nyatanya Relatif

Di era global ini, nasib di berbagai belahan dunia saling terkait. Pembatasan ekspor kelapa sawit ke luar negeri, yang membuat minyak goreng menjadi barang yang mahal dan langka di Tanah Air, bisa membuat ketar-ketir negara luar. Juga batu bara. Perang Ukraina-Rusia membuat sebagian besar harga barang-barang di Tanah Air ikut melonjak.

Tapi Mas Bejo, berdasarkan literatur, bahagia itu seperti teori relativitas Albert Einstein. Di mana kecepatan dan percepatan diukur secara berbeda melalui kerangka acuan. Bahagia itu juga sifatnya subyektif, dari mana seseorang memandangnya.

Saat di belahan dunia lain dikecamuk perang, berebut daratan, pulau, dan lautan, di ujung lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah, kakek-kakek berusia di atas 60-70-an berkumpul tertawa-tawa bercengkerama di warung kopi. Sambil mendengarkan alunan uyon-uyon dan sesekali menikmati singkong rebus pagi itu. Mereka seperti sedang menertawakan masyarakat kota, dan itu membuat mereka bahagia.

Baca Juga: Kenapa yang Negatif-negatif Kok Asyik?


Saat di belahan wilayah lain diamuk corona, Si Baharuddin dan rekan-rekannya sedang asyik memancing ikan di sebuah waduk di pinggiran Kota Parepare. Lalu, Si Apoy dan kawan-kawannya asyik berenang di sebuah sungai di Kepulauan Kei Kecil di Maluku.

Lantas, kafe-kafe masih dipenuhi segerombol anak muda yang lepas bersendau-gurau, ketawa terbahak-bahak, sembari menikmati secangkir kopi racikan barista yang mumpuni.

Di sudut sana, para crazy rich juga sedang menghitung pundi-pundi cuan mereka, sampai-sampai kesulitan memilih mana lagi investasi yang mau dibeli. Para politikus, anggota DPR, para menteri, juga masih bisa tersenyum lebar. Nah….

Bahagia juga masih ditemui di 10 negara dengan indeks bahagia tertinggi di dunia, seperti di Finlandia, Denmark, Islandia, Swiss, Belanda, Luksemburg, Swedia, Norwegia, Israel, dan Selandia Baru—jangan tanya Indonesia ya, yang ada di urutan ke -87 pada tahun ini.

Jadi, Mas Bejo, tenang saja, bahagia alias happiness masih ada di sejumlah belahan dunia. Seperti matahari, hari ini sebagian penduduk bumi masih bisa menikmati, tapi sebagian penduduk bumi sedang menanti. Bak piala bergilir, pasti bahagia itu akan datang di setiap jiwa insan. Tapi, ya, entah kapan… Tunggu aja ya, Mas. (S. Maduprojo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *